WeLcOmE CoMrAdE
Save The World Today
____Enjoy Your Live Today *BECAUSE* Yesterday Had Gone And Tomorrow May Never Come____
continue like this article, although the road is full of obstacles and temptations

Kenangan Masa Lalu

| Jumat, 16 September 2011 | 0 komentar |
Saat ku menengok FaceBook selalu membangkitkan kenangan masa lalu. Entah kenangan pahit atau kenangan manis. Dan hari ini seperti biasa aku membuka Facebook. Kepenatan hari kemarin menurunkan semangat kerjaku. Akahirnya kutinggalkan setumpuk design drawing diatas meja dan mulai berseluncur kedunia maya.

Berbalas status dengan teman, membawaku pada sebuah nama dari teman bersama. Entah kenapa sekilas bayangan itu akhirnya memenuhi kepalaku. Seseorang dari masa lalu yang aku ingin melupakannya. Tapi ternyata aku tak bisa sepenuhnya melupakannya. Selalu ada benang merah yang berusaha untuk menghubungkan aku dengannya.

Teringat sebuah telepon saat aku masih diterminal menunggu dijemput oleh kakak. Telepon ini berasal dari seorang perempuan yang menganggapku sebagai kakak. Inka namanya.

" Joe, apa kamu jadi pulang hari ini?" suara diseberang memulai percakapan
" Iya.., memang ada apa?"
" Kudengar Niken juga pulang hari ini."
" Ooohh.." aku menyahut pelan. Suaraku tertahan di tenggorokan.
" Aku ingin melupakan masa lalu.." kataku sambil menghela nafas panjang.
(Suara tawa tergelak diseberang sana.)
" Kak Joe.. kak Joe.. kamu memang bisa saja.."
(Tawanya bening menghiburku. Perasaan sedih yang baru saja lewat menguap karenanya.)
" Jika tak bisa berharap orang lain yang berlalu, kita yang harus berlalu kan dik.."
" Benar kak.." kembali beningnya suara itu menghiburku.

" Truss, kakak siapa yang menjemput diterminal?"
" Nanti kakak aku yang menjemput..!!"
" Ya sudah, hati-hati ya.. nanti klo sudah nyampe rumah kabari biar aku main kerumah."
" Insya Allah, ooh iya kamu tau klo niken pulang naik bus dari mana?"
" Ohh, kemarin kan dia sms aku klo mau pulang jg. Kita kan sekarang tetanggaan kak, tapi jangan khawatir kak, aku ngaa cerita kok klo kenal kakak."
" Thanks yow.."
" Ok, jangan lupa kabari aku klo sudah nyampe rumah."
" Siepp.. klo ngaa lupa!!"

Perasaan biru, ketika Inka menututup teleponnya.
Niken nama perempuan itu. Perempuan yang sangat ingin dilupakannya. Menoreh luka. Mematahkan kuncup bunga dihatinya yang baru mekar. Padahal dulu mereka bersahabat, bahkan seperti sepasang kekasih.

Masih tidak bisa dilupakannya ketika dia mengetahui kenyataan bahwa Niken telah menghancurkan impiannya untuk hidup bersamanya.

Ach.. mungkin dia memang belum berjodoh denganku. Ada sisi batinku yang mencoba untuk mengingatkan, agar diriku tak terpuruk dalam kesedihan lagi.

Tapi dia lebih memelih untuk pergi..

Niken.. dan tiba-tiba muncul nama itu kembali hadir..
Buru-buru kututup FaceBookku, aku tak ingin melihatnya lagi..




Cikarang, 16 September 2011
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/

READ MORE - Kenangan Masa Lalu

Penyesalan saat hari esok tiba

| Minggu, 21 Agustus 2011 | 2 komentar |
Pada suatu desa, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, bersama dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia selalu bermain, mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi banyak orang adalah kesukaannya.

Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata,"Tidak apa-apa, besok kan masih bisa." Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu semua wajar-wajar saja. Semua begitu saja dijalaninya, sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, di berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi dia tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya,"Tidak apa-apa, besok kan masih bisa."

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temanya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Akan tetapi, itu bukan masalah baginya karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Yaa.., mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia bertemu dengan seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjaanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu saja dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata,"Ahh.., aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja yang selalu mau di ajaknya keluar.

Waktupun telah berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya. Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu pun tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku Cinta Kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya,"Tidak apa-apa, besok saya akan mengatakannya."

Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anaknya pun mulai menjauhinya dan tidak pernah menhabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya di tabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya di jemput oleh maut. Sebelum sempat berkata "Aku Cinta Kamu", istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya.

Tapi, dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Anak-anaknya pun beranjak dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat usianya mulai tak muda lagi, dia pinda ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50,60 dan 70. Semua uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil salah seorang suster dan berkata kepadanya,"Ahh, andai saja aku menyadari ini dari dulu.." Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhirnya, dia meninggal dunia dengan air mata dipipinya.



Yang ingin coba kukatakan pada kalian, waktu itu ngaa pernah berhenti. Kalian terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadarinya kalian ternyata telah maju terlalu jauh..!?!

Jika kalian pernah bertengkar, segeralah berbaikan..!?!

Jika kalian merasa ingin mendengar suara teman kalian, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya..!?!

Jika kalian merasa ingin bilang kepada seseorang bahwa kamu sayang sama dia, jangan tunggu sampai terlambat..!?!

Jika kalian terus berpikir kalau lain hari dia akan tahu sendiri, akan tetapi hari itu tidak akan pernah datang..!?!

Jika kalian selalu berpikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu saja, hingga kalian tak sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu..!?!
READ MORE - Penyesalan saat hari esok tiba

Dalam Waktu

| Kamis, 04 Agustus 2011 | 0 komentar |
Saat pepohonan mati dan cahaya memudar..
Tapi aku berharap untuk napas baru..
Kehidupan baru untuk merubah masa lalu..

Kita harus selalu bersama..
Mengabaikan matahari yang datang..
Untuk bernyanyi tentang hidup adalah satu..

Semua perjuangan telah kita lalui..
Seperti jarum suntik yang berjajar dilantai..
Sebuah siklus yang melilit kehidupan..

Satu demi satu semua memudar..
Melewati pepohonan mati tanpa sinar mentari..
Seperti dunia penuh dengan penderitaan tanpa ujung..

Menyisakan penderitaan tiada henti..
Menggunduli masa depan yang masih panjang..
Meninggalkan puing-puing penyesalan..



Cikarang, 4 Agustus 2011
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/
READ MORE - Dalam Waktu

i'll miss you mom ..!!!

| Rabu, 03 Agustus 2011 | 0 komentar |
Sebening titik embun pagi, sebening hatimu IBU..
Secerah matahari pagi, sehangat kasih sayangmu IBU..
Semilir angin sendu, selembut ucapanmu IBU..
Episode perjalanan jadi rindu padamu..

Engkau panutan kami..
Jiwamu bagaikan amal sedekah..
Ragamu bagai pengorbanan harta..
Tak sekejap kau paling kasihmu..

Rindu belaimu di permbaringan..
Ku tunggu do'a seiring langkah kami..
Sekejab tak hilang, seucap kata dalam buaian..

Bilakah IBU berkenan..
Akan ku munajatkan pada Tuhan..
Semoga engkau sehat sepanjang badan..



Bojonegoro, 3 Agustus 2011
Omen Nayto / HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/
READ MORE - i'll miss you mom ..!!!

Di Pasung Dengan Sunyi

| Jumat, 29 Juli 2011 | 0 komentar |
Malam ini penuh duka..
Rembulan mengasingkan diri dari ratapan malam..

Kecewa..

Cahayanya yang kala itu purnama..
Dibalas dengan lolongan anjing kampung..

Jadi tak perlu kau bawa tangisanmu..
Yang hanya membawa air mata dusta..
Aku bukanlah Pangeranmu..!!

Singkirkan ratapanmu itu..
Yang isinya kebohongan belaka..
Jauhkan dari hadapanku..

Aku muak..
Aku benci semua ini..!!

Wajahmu yang rupawan..
Menjadikan elok dan menawan..
Tapi aku terlanjur luka..

Dan sejak itulah..
Kubiarkan hati ini terpasung dengan sunyi..


READ MORE - Di Pasung Dengan Sunyi

Hacker Jatuh Cinta

| | 0 komentar |
Seandainya hatimu adalah sebuah system komputer..
Maka aku akan SCAN kamu untuk mengetahui PORT mana yang terbuka..
Sehingga tak ada keraguan saat aku menuliskan c:\> nc -l -o -v -e ke hatimu..
Tapi... aku hanya berani PING dibelakang ANONYMOUSE PROXY..
Inikah rasanya jatuh cinta sehingga membuatku seperti seorang pecundang..
Ataukah aku memang seorang pecundang sejati..

Seandainya hatimu adalah sebuah system komputer..
Ingin rasanya aku memanfaatkan VULNERABILITIES-mu..
Kan ku pakai PHP INJECTION dan ls -la; find / -perm 777 -type d..
Sehingga aku tahu jikalau dihatimu ada folder yang bisa ku isi..
Atau... ada free space buatku..??
Apa kau harus pasang BACKDOOR "Remote Connect-Back Shell"..
Jadi aku tinggal menunggu koneksi darimu, agar aku tak merana seperti ini..

Seandainya hatimu adalah sebuah system komputer..
Saat semua REQUEST-ku diterima, aku akan nongkrong terus di BUGTRAQ..
Untuk mengetahui BUG barumu..
Maka aku akan PATCH n PATCH terus, dan aku akan menjaga SERVICE-mu jangan sampai CRASH..
Aku akan menjadi FIREWALL-mu, akan kupasang PORTSENTRY..
Dan menyetting ERROR PAGE-mu "The page cannot be found coz has been owned by Someone get out"..
Aku janji tak ada nada MALICIOUS atau SERVICE yang HIDDEN..
Karena aku sangat sayang dan mencintamu..

Seandainya hatimu adalah sebuah system komputer..
Jangan ada kata "You don't have permission to access it" untuk ku..
Kalau ngaa mau PING FLOOD atau DDos ATTACK..
Karena kamu harus menjadi sang bidadari penyelamatku..

Seandainya hatimu adalah sebuah system komputer..
Tapi... sayang, hatimu bukanlah sebuah system..
Kamu adalah Bidadari impianku, yang telah mengacaukan systemku..
Dihatiku sudah terinfeksi VIRUS yang menghanyutkan kalbuku..
Ngaa ada ANTIVIRUS yang bisa menangkalnya, selain..
KAMU..!!


Cikarang, 29 Juli 2011
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/
READ MORE - Hacker Jatuh Cinta

Tangis Disepanjang Hari

| Senin, 25 Juli 2011 | 0 komentar |
Tangisan itu seperti kesedihan yang mengapung di udara. Menyelesup ke rumah-rumah kampung pinggir kota itu. Karena hampir setiap hari mendengar orang menangis, maka para warga pun tak terlalu peduli.

Tapi ketika sampai malam tangis itu terus terdengar, sebagian warga pun menjadi mulai terganggu. Tiba-tiba saja tangis itu seperti mengingatkan pada banyak kesedihan yang diam-diam ingin mereka lupakan. Tangis itu jadi mirip cakar kucing yang menggaruk-garuk dinding rumah. Bagai mimpi buruk yang menggerayangi syaraf dan minta diperhatikan. Beberapa warga yang jengkel langsung mendatangi pos ronda.

”Siapa sih yang terus-terusan menangis begitu?!”

”Apa dia tak lagi punya urusan yang harus dikerjakan selain menangis seharian. Ini sudah keterlaluan!”

”Suruh keparat itu berhenti menangis,” sergah warga lainnya.

”Ah paling juga itu tangisan Kumirah,” ujar seorang peronda. ”Ia pasti masih sedih karena suaminya mati dibakar kemaren.”

Orang-orang terdiam. Mendadak saja mereka teringat Sidat yang ketangkap mencuri jagung rebus, kemudian dibantai ramai-ramai. Belum puas melihat Sidat bonyok dan ringsek, seseorang menyiramkan bensin ke tubuh suami Kumirah itu. Sidat mengerang-erang terkapar. Bau daging yang melepuh terbakar itu membuat mereka merinding. Bau daging bakar yang harum campur aroma bensin itu kini kembali tercium. Seakan masih menempel di udara. Bau yang bagai kembali mengapung bersama isak tangis. Adakah yang lebih menyedihkan dari tangisan itu?

Para peronda dan beberapa warga segera menuju kontrakan Kumirah. Kamar itu sepi terkunci. Tak ada tangis merembes dari dalamnya. Tangis itu mengambang di udara entah berasal dari mana. Seperti menggenang dan mengepung mereka. Mereka sudah sambangi tiap rumah, tapi tak menemukan siapa yang menangis begitu sedih begitu nelangsa seperti itu. Kadang tangis itu terdengar seperti suara tangis bayi yang rewel kelaparan. Kadang seperti suara perempuan terisak setelah digampar suaminya yang mabok. Kadang terisak panjang. Kadang seperti keluhan. Kadang seperti erang binatang sekarat. Kadang seperti sayatan panjang yang mengiris malam.

Berhari-hari tangisan itu terdengar timbul-tenggelam merepihkan kesedihan yang paling memilukan. Hidup sudah sedemikian penuh kesedihan kenapa pula mesti ditambah-tambahi mendengarkan tangisan yang begitu menyedihkan sepanjang hari seperti itu?

”Ini sudah keterlaluan!” geram seorang warga. ”Bukannya saya melarang orang menangis, tapi ya tahu diridong. Masak nangis nggak berhenti-henti begitu.” Lalu kompak, warga sepakat mengadu pada Pak RT.

”Kami harap Pak RT segera mencari siapa yang terus-menerus menangis begitu…”

Lho, apa salahnya orang menangis. Kadang menangis kan ya perlu,” ujar Pak RT.

”Kalau nangisnya sebentar sih nggak papa. Kalau terus-terusan kan kami jadi terganggu.”

”Terus terang, kami juga jadi ikut-ikutan sedih karenanya.”

”Jadi kebawa pingin nangis…

”Itu namanya mengganggu ketertiban!”

”Pokoknya orang itu harus segera diamankan!”

Tak ingin terjadi hal-hal yang makin meresahkan, Pak RT segera menghubungi Ketua RW, karena barangkali yang terus-terusan menangis itu dari kampung sebelah. Seminggu lalu memang ada warga kampung dekat pembuangan sampah yang mati gantung diri setelah membunuh istri dan empat anaknya yang masih kecil. Mungkin roh orang itu masih gentayangan dan terus-terusan menangis. Namun Ketua RW menjelaskan kalau suara tangis itu memang terdengar di seluruh kampung.

”Warga seberang rel juga cerita, kalau mereka siang malam mendengar suara tangis itu,” kata Ketua RW. ”Makanya, kalau sampai nanti malem suara tangis itu terus terdengar, saya mau lapor Pak Lurah.”

***

Pada hari ke-3, suara tangis itu terdengar makin panjang dan menyedihkan. Tangisan itu terdengar begitu dekat, tetapi ketika didatangi seakan berasal dari tempat yang jauh. Tangis itu seperti air banjir yang meluber ke mana-mana. Orang-orang mendengar tangisan itu makin lama makin sarat rintihan dan kepedihan. Tangisan yang mengingatkan siapa pun pada kesedihan paling pedih dan tak terbahasakan. Siapakah dia yang terus-terusan menangis penuh kesedihan seperti itu? Bila orang itu menangis karena penderitaan, pastilah itu karena penderitaan yang benar-benar tak bisa lagi ditanggungnya kecuali dengan menangis terus-menerus sepanjang hari.

Pada hari ke-17 seluruh kota sudah digelisahkan tangisan itu. Para Lurah segera melapor Pak Camat. Tapi karena tak juga menemukan gerangan siapakah yang terus-terusan menangis, Pak Camat pun segera melapor pada Walikota, yang rupanya juga sudah merasakan kegelisahan warganya karena tangis yang terus-menerus terdengar sepanjang hari itu. Tangis itu telah benar-benar mengganggu karena orang-orang jadi tak lagi nyaman. Tangis itu makin terdengar ganjil ketika menyelusup di antara bising lalu-lintas. Tangis itu telah menjadi teror yang menyebalkan. Radio dan koran-koran ramai memberitakan. Mencoba mencari tahu siapakah yang terus- menerus menangis sepanjang hari, berhari-hari…

Orang-orang hanya bisa menduga dari manakah asal tangisan itu. Siapakah yang tahan terus- terusan menangis seperti itu.

”Mungkin itu tangis pembantu yang disiksa majikannya…”

”Mungkin itu tangisan buruh yang baru terkena PHK.”

”Mungkin itu tangisan korban mutilasi…”

”Barangkali itu tangisan bocah yang mati disodomi dan mayatnya dibuang ke dasar kali dan tak ditemukan sampai kini…”

”Barangkali itu tangisan pedagang kaki lima yang digusur dan tubuhnya tersiram air panas.”

”Atau bisa jadi itu tangisan kuntilanak…”

”Mungkin tangisan Suster Ngesot…”

Hingga hari ke-65 tangisan itu makin terdengar penuh kepedihan dan membuat Walikota segera menghadap Gubernur. Ternyata Gubernur memang sudah mendengar tentang tangis yang terdengar hingga ke seluruh provinsi. Tangisan itu bagai mengalir sepanjang jalan sepanjang sungai sepanjang hari sepanjang malam, melintasi perbukitan kering, merayap di hamparan sawah yang tergenang banjir dan terdengar gemanya yang panjang hingga ngarai dan lembah yang kelabu sampai ke dusun-dusun paling jauh di pedalaman.

Tangis itu mengalun sayup-sayup bersama galau angin yang melintasi padang savana dan teluk-teluk yang redup sampai ke pantai-pantai. Tangisan itu bagai mampu meredakan deru ombak hingga laut terlihat bening dan datar berkilauan di bawah cahaya bulan yang keperakan. Orang- orang termangu diluapi kesenduan setiap mendengar tangisan yang timbul tenggelam itu. Para penyair menuliskan sajak-sajak perihal kesenduan dan kesedihan tangis itu seakan-akan itulah tangisan paling menggetarkan yang pernah mereka dengar.

Pada hari ke-92 para menteri berkumpul membahas laporan para Gubernur perihal tangis yang telah terdengar ke seluruh negeri. Tangis itu bahkan terdengar begitu memelas ketika melintasi gang-gang becek di Ibu Kota. Terdengar terisak-isak serak bagai riak yang mengapung di gemerlap cahaya lampu gedung- gedung menjulang hingga setiap orang yang mendengar sekan diiris-iris kesedihan.

”Apakah kita mesti melaporkan hal ini pada Presiden?” kata seorang Menteri.

Menteri yang lain hanya diam.

***

Pada hari ke-100, tangis itu sampai juga ke kediaman Presiden yang asri dan megah. Tangis itu menyelusup lewat celah jendela, dan membuat Presiden tergeragap dari kantuknya. Ia menyangka itu tangis cucunya. Tadi sore anak dan menantunya memang mengajak cucu pertamanya tidur di sini. Mungkin dia kehausan, batin Presiden, lalu bangkit menuju kamar sebelah. Tapi cucunya yang mungil itu tampak lelap. Betapa pulas dan damai tidur cucunya itu. Lalu siapa yang menangis? Seperti terdengar dari luar sana. Pelan Presiden membuka jendela, tapi yang tampak hanya bayangan pagar yang baru direhab menghabiskan 22,5 Milyar.

Mendadak istrinya sudah di sampingnya.

”Ada apa?”

”Saya seperti mendengar suara tangis…”

”Siapa?”

”Entahlah…”

”Sudah, tidur saja. Besok kamu mesti pidato,” kata istrinya. ”Apa ya nanti kamu akan mengeluh hanya karena mendengar tangis itu?”

Presiden hanya tersenyum. Tetap berusaha tampak anggun dan tenang. Lalu menutup jendela.

***

Sementara tangisan itu terus mengalun dan angin perlahan-lahan bagai susut. Segala suara bagai meredup dan mengendap dalam gelap. Semesta terkesima dan seketika terdiam. Seekor lelawa yang terbang melintas malam mendadak berhenti di udara. Sebutir embun yang bergulir mendadak tergantung beku di ujung daun. Beberapa ekor kunang-kunang dengan cahaya kuning yang redup pucat terlihat diam mengapung dalam dingin. Semesta begitu hening. Tak ada suara selain tangis yang penuh kesedihan itu. Tangis yang terus mengalun mengalir hingga galaksi-galaksi paling jauh.

Apakah kau dengar tangisan itu?


Cikarang, 25 Juli 2011
READ MORE - Tangis Disepanjang Hari

Pengantar Tidur Panjang

| | 0 komentar |
Aku muncul di rumah menjelang subuh. Tak berapa lama kemudian adik perempuanku juga muncul. Ia membuka pintu sambil menangis, ”Bapak sudah meninggal?”
”Belum,” kataku.
”Kata dokter sudah.”
Setelah melihat Bapak masih hidup, meski hanya berbaring tanpa bisa bergerak, tangisnya reda. Adikku bilang, setelah menerima telepon dari Ibu untuk pulang, ia mampir dulu ke pusat kesehatan di kampusnya untuk memeriksa matanya yang gatal. Apa yang dikatakan Ibu kepadanya persis seperti yang kudengar: kalau sempat, kamu pulang, kata perawat yang mengurusnya, ginjal Bapak sudah tidak berfungsi.
Adik perempuanku sambil lalu bertanya kepada dokter yang memeriksa matanya, ”Oh ya, Dok, ngomong-ngomong kalau orang sudah enggak berfungsi ginjalnya, apa yang akan terjadi?”
Tanpa menoleh, sambil menulis resep, si dokter menjawab, ”Mati.”
”Astagfirullah,” pekik adikku, air matanya tak tertahankan tumpah, membuat si dokter terkejut. Sepanjang perjalanan pulang ia menangis, berpikir Bapak sudah mati.
Aku yakin jika Bapak masih mendengar obrolan kami, ia akan tertawa. Ia suka tertawa. Barangkali ia mendengarnya, tapi ia tak bisa menggerakkan mulutnya, bahkan untuk tertawa. Tapi aku yakin ia tertawa di dalam hatinya. Tertawa hingga tertidur.
***
Kami berkumpul di sekitar Bapak. Ibu dan adik perempuanku yang paling tua sedang membaca Yassin. Aku tak ikut membaca. Aku bisa membaca, tapi tak bakalan secepat mereka, karena itu aku memilih mendengarkan saja. Adik-adikku yang lain sama buruknya dalam membaca Al Quran denganku.
Bapak sendiri yang mengajari kami mengaji. Aku khatam Al Quran tiga kali, jika aku tak salah ingat. Bapak mendirikan surau kecil di belakang rumah dan kemudian mengajari pula anak-anak tetangga mengaji. Ia juga memberikan khotbah Jumat di masjid. Aku selalu melihatnya setiap Jumat pagi menulis khotbahnya. Ketika modin masjid itu meninggal, ia menggantikannya.
Karena masjid itu milik Muhammadiyah, banyak orang berpikir Bapak orang Muhammadiyah. Ia tak keberatan dengan anggapan itu, toh ia selalu Puasa maupun Lebaran mengikuti kalender orang-orang Muhammadiyah. Termasuk shalat tarawih sebelas rakaat, meskipun jika terpaksa, ia mau mengikuti tarawih bersama orang-orang NU (misalnya bersama kakekku, yang selalu ngotot shalat tarawih dua puluh tiga rakaat).
Sambil duduk menghadap Bapak, aku bertanya-tanya apakah Bapak pernah berharap salah satu anaknya akan menggantikannya menjadi pengkhotbah Jumat?
”Jangankan kasih khotbah, kamu ngaji saja enggak benar,” kata ibuku.
Benar juga. Jika Bapak menginginkan itu, mestinya ia mengirimku ke pesantren. Nyatanya, ia membiarkanku pergi untuk kuliah filsafat dengan risiko besar menemukan anaknya tak lagi pernah shalat dan puasa. Ketika aku pulang semester tiga mengenakan kaus bergambar Lenin, justru ibuku yang berseru.
”Lihat, anakmu jadi kuminis.” (Ia tidak bilang komunis tapi kuminis).
Bapak, seperti biasa, hanya tertawa.
Bapak juga membiarkan adik lelakiku kuliah di jurusan peternakan, dan setelah berbagai penelitian dengan ayam ras, adikku mengamini Charles Darwin, percaya nenek moyang manusia dan monyet (juga ayam) memang sama. Tidak ada Adam dan Hawa. Bapak tak peduli dan memberinya modal untuk membuat peternakan ayam.
Waktu Pemilu 1999, Ibu yang memilih Partai Bulan Bintang (begitu juga Bapak setelah bertahun-tahun lalu memilih Masyumi, lalu Partai Persatuan Pembangunan) kembali mengadu. Kali ini gara-gara di seantero desa hanya satu orang yang mencoblos Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan semua orang tahu itu kelakuan adikku si peternak ayam, karena hanya ia yang memasang bendera partai itu di depan rumah.
”Satu lagi anakmu jadi kuminis.”
Kembali Bapak hanya tertawa. Aku tahu ia lebih risau jika anaknya mencuri ikan di kolam tetangga daripada melihat anak yang memakai kaus Lenin atau mencoblos PRD.
Meskipun begitu, salah satu adik perempuanku, yang kini membaca Yassin bersama Ibu, akhirnya kuliah ke Institut Agama Islam Negeri di Yogyakarta. Tapi tak ada tanda-tanda Bapak merencanakannya menjadi guru mengaji. Paling tidak, ia pernah berkata kepadaku saat itu.
”Biar ia pergi dari rumah dan ketemu jodoh.”
Adikku yang ketiga, yang menangis setelah bertemu dokter, kuliah di sastra Indonesia. Adikku yang keempat, kuliah manajemen. Hanya adik kami yang paling bungsu, laki-laki, yang masih sekolah. Ia duduk bersila bersama kami, gelisah. Ia ingin pergi dari sana. Aku tahu ia ingin pergi ke kamarnya dan bermain PlayStation. Akhirnya aku, memiliki sedikit hak menyuruh sebagai anak paling tua, memperbolehkannya pergi.
”Ia lagi jatuh cinta, dua hari lalu ketemu cewek di bus,” kata adik perempuanku setelah usai membaca Yassin.
”Cewek?”
”Heeh. Katanya cewek itu mengedipkan mata ke arahnya.”
”Terus?”
Adikku jadi tertawa kecil. ”Terus ia bilang, jantungnya serasa berhenti seketika. Sepanjang jalan ia enggak berani melihat cewek itu. Ia pengin mendekatinya, mengajaknya berkenalan, tapi enggak berani. Ha-ha-ha….”
”Terus?”
”Nah, ini yang paling lucu. Akhirnya ia sampai ke tempat tujuan. Takut tak punya kesempatan untuk melihatnya lagi, ia memberanikan diri memandang cewek itu. Si cewek konon masih melihat ke arahnya. Maka sambil turun dari bus, ia membalas mengedipkan mata untuk cewek itu. Gara-gara itu ia tersungkur ke selokan pinggir jalan.”
”Ha-ha-ha…”
Jika ada yang disesali Bapak kalau mati saat itu, mungkin karena ia belum sempat melihat adik bungsuku tumbuh besar dan pergi dari rumah seperti yang lainnya. Tapi barangkali ia mendengar cerita adikku, dan jika ia mendengarnya, aku yakin ia akan tersenyum. Senyum kecil di sudut hatinya, pengantar tidur panjangnya.
Anaknya yang paling kecil sudah besar. Sudah bisa mengedipkan sebelah mata untuk seorang gadis di dalam bus.
***
Waktu aku masih di awal umur belasan tahun, aku tak punya malam Minggu sebagaimana teman-temanku. Tak ada pacar, tak ada genjreng gitar memainkan ”Party Doll” (tak masalah, aku baru menyukai The Rolling Stones dan Mick Jagger bertahun-tahun setelah itu), dan tak ada acara menonton televisi. Bapak mengajakku ke pengajian.
Bukan hal yang buruk, sebenarnya. Pengajian itu dilakukan di rumah pemilik penjagalan sapi. Di akhir acara selalu ada penutup istimewa (dan ini yang paling kutunggu): makan malam dengan berbagai hidangan daging sapi. Aku tak ingat dari mana ustaz yang memimpin pengajian. Yang aku ingat, ia hafal Al Quran dan artinya di luar kepala. Jika seseorang bertanya mengenai suatu masalah, dengan cepat ia bisa menunjukkan surat dan ayat berapa sebagai jawabannya. Untuk itulah, setiap orang harus membawa Al Quran dengan terjemahan, untuk mencocokkan dan membuktikannya.
Kalimatnya yang paling terkenal adalah ”Semua jawaban ada di Buku ini.”
Hingga suatu ketika ia bercerita tentang ”saudara-saudara kita” di Afganistan. Aku lupa berapa lama isu ini dibawakan. Pasti berminggu-minggu.
Lalu suatu malam, aku bilang kepada Bapak, ”Aku mau pergi ke Afganistan.”
Bapak tak menjawab apa pun. Malahan ia tak mengajakku ke pengajian minggu depannya dan minggu depannya lagi. Aku tak ingat apakah ia sendiri masih mengikuti pengajian itu atau tidak, yang jelas kemudian seluruh rumah terjangkit cacar air, kecuali aku. Bapak menyuruhku mengungsi sementara waktu ke rumah salah satu pamanku. Di sana paman meminjamiku radio.
Begitulah malam Minggu-malam Minggu selanjutnya lebih banyak kuhabiskan di dekat radio. Lagi pula aku baru saja berkenalan dengan seorang gadis adik kelasku. Aku selalu mengiriminya pesan lewat radio, bersama dengan lagu. Ia tak pernah membalasnya, tapi aku tetap mengejarnya. Usaha pengejaranku yang memakan waktu berbulan-bulan membuatku lupa akan gagasan pergi ke Afganistan.
Kini, sambil memandang Bapak yang berbaring di tempat tidur, aku memikirkan waktu-waktu itu. Aku tak tahu apakah aku harus bersyukur atau tidak. Jika Bapak mengizinkanku pergi ke Afganistan, mungkin sekarang aku tak akan ada di sisinya. Mungkin sekarang aku berada di dalam daftar buron karena peledakan gereja atau hotel. Barangkali lebih dari itu. Karena menurutku, aku lebih pintar daripada kebanyakan orang, barangkali nasibku jauh lebih buruk: di penjara Guantanamo. Siapa tahu?
Kupandangi Bapak. Jika ia sehat sebagaimana dulu, dengan mudah ia pasti bisa membaca pikiranku. Dan ia pasti akan tertawa sampai air matanya meleleh. ”Enggak mungkin,” begitu ia akan bilang. ”Kamu memang pintar, tapi tak akan seberani itu. Kamu penakut, dan itulah mengapa kamu tak pergi ke Afganistan. Kamu selalu takut dengan polisi dan tentara, meskipun kamu tampaknya tak pernah takut dengan neraka.”
***
Akhirnya Bapak meninggal, di malam kedua keberadaanku di rumah. Menjelang subuh. Umurnya 63 tahun, menjelang 64. Ia pasti senang sekali, sebab itu umur yang sama dengan Rasulullah. Ibuku juga senang, terutama karena ia mendengar kata terakhir yang diucapkan Bapak sebelum meninggal adalah ”Allah”.
Kata Ibu, sudah beberapa hari Bapak tak mengeluarkan suara apa pun, selain tidak bergerak. Tapi setengah jam sebelum meninggal, ia mulai mengerang lagi. Napasnya pendek-pendek. Ibu yang pernah menunggui kakek dan nenekku meninggal tahu waktunya hanya beberapa menit lagi.
”Tercium dari aromanya,” begitu Ibu bilang. Aku sendiri mencium aroma itu, seperti bau bayi yang baru dilahirkan. Ibu meletakkan piring berisi serbuk kopi di samping Bapak, aku menyemprotkan pengharum ruangan.
Bertiga dengan seorang paman, kami membisikkan nama Allah ke telinga Bapak. Akhirnya Bapak berhasil mengucapkannya, ”Allah” … ”Allah” … ”Allah”. Setelah itu Bapak meninggal. Ibu menitikkan air mata. Paman menutup mata Bapak. Adik-adikku sudah di sekeliling kami. Aku menelepon istriku yang kutinggal di Jakarta.
Percayalah, aku selalu berpikir bahwa nasib Bapak akan selalu sama dengan nasib Republik Indonesia. Ia lahir sebulan setelah Proklamasi. Menurut astrologi China, Bapak dan Republik Indonesia memiliki shio yang sama. Ayam dengan unsur Kayu. Nasib mereka tak akan jauh berbeda.
Misalnya, pada tanggal 28 November 1975 aku dilahirkan. Pada saat yang sama Fretilin memerdekakan Timor Timur dan Republik Indonesia mencaploknya. Mereka berdua (Bapak dan Republik Indonesia) sama-sama memiliki anggota keluarga baru. Sejak itu usaha Bapak (bermacam-macam) menuai keberhasilan. Di tengah puncak kemakmuran, Bapak bangkrut di tahun 1998. Ha, bukankah begitu juga Republik Indonesia? Bapak memperoleh serangan stroke dan sejak itu kesehatannya tak pernah sebaik sebelumnya. Tahun 1999 ia mulai membekali dirinya dengan tongkat. (Ya, tahun itu Indonesia dipimpin Gus Dur, Presiden yang juga berjalan dengan tongkat).
Dengan kematian Bapak apakah Republik Indonesia juga akan tamat? Sungguh aku mengkhawatirkannya. Tapi daripada sibuk memikirkan urusan semacam itu, lebih baik aku menyibukkan diri dengan urusan pemakaman Bapak. Ia akan dikuburkan persis di samping kuburan ibu mertuanya, nenekku.
Dari tanah kembali ke tanah. Ada empat penggali kubur yang perlu dibayar.
Ada tamu-tamu yang perlu disambut. Ada kerabat yang perlu diberi tahu. Begitulah.
***
Empat hari kemudian, aku kembali ke Jakarta dengan bus malam. Tujuh jam perjalanan dan aku akan tiba di Kampung Rambutan. Aku duduk, suara AC berdengung di atasku. Kurebahkan sandaran kursi. Selama lebih dari satu jam, aku hanya melamun.
Lalu kondektur datang mendekat. Aku merogoh dompet di saku celanaku. Si kondektur berhenti di sampingku, memandang ke arahku. Aku mendongak ke arahnya. Ia sedikit terkejut dan setelah beberapa saat, menyapa, ”Apa kabar?”
Sungguh, aku tak merasa mengenalnya.
Sebelum aku sempat membuka mulut, ia sudah berkata lagi, ”Ikut berduka atas kepergian Bapak.”
Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Aku hendak mengeluarkan uang dari dompet, tapi ia segera menghalanginya. Tidak usah, katanya. Lalu ia bercerita, beberapa tahun lalu ia sempat sakit gigi, tak sembuh oleh obat. Dokter tak berani mencabut giginya sebelum sakitnya hilang. Hingga seseorang menyarankannya menemui seorang kiai. Ia pergi menemui kiai tersebut. Sang kiai memberinya minum. Air putih biasa dari dapur. Sakitnya mendadak hilang dan dokter kemudian mencabut giginya.
”Kiai itu bapakmu,” kata kondektur.
Sejujurnya, aku belum pernah mendengar cerita ini.
Kondektur pergi setelah menepuk bahuku, menghampiri penumpang lain. Aku hanya menoleh, memerhatikan punggungnya. Apa boleh buat, kumasukkan kembali dompet ke saku celana.
Bahkan, pikirku, setelah meninggal Bapak masih memberiku ongkos bus. Aku tersenyum sambil kembali bersandar. Kukeluarkan iPod dan kupilih lagu: ”Seasons in the Sun” dari Terry Jacks. Kupasang earphone dan kupejamkan mata.
”Goodbye, Papa, it’s hard to die …”
Dan segera aku terlelap


Cikarang, 25 Juli 2011
READ MORE - Pengantar Tidur Panjang

Antara CINTA & KENTUT

| Kamis, 30 Juni 2011 | 0 komentar |
CINTA dan KENTUT tidak bisa ditahan, keduanya bisa menjadi lega bila dilaksanakan.

CINTA tertahan = Sengasara, KENTUT ditahan = Menderita.

Kalau CINTA dan KENTUT keras bersuara, tentu perasaan kita akan lega.

CINTA terkesan malu-malu tapi mau, klo KENTUT bikin malu-maluin baunya.
CINTA tanpa rasa, bukan CINTA namanya. KENTUT tak berbau, bukan KENTUT namanya.

CINTA itu rapuh, KENTUT itu bau.

CINTA itu halus, KENTUT itu virus.

CINTA diam-diam membuat orang mabuk kepayang, KENTUT diam-diam membuat orang mabuk kepalang.

CINTA bagi kebanyakan orang muda, " Ahh, CINTA monyet ..!!!"
KENTUT didepan banyak orang, " Sialan, monyet loe ..!!!"

CINTA dan KENTUT sama-sama sering dicari :
kalau sudah CINTA : " Dimana engkau berada duhai kekasih ??"
kalau sudah KENTUT : " Siapa siihh yang KENTUT ?? hayoo.. ngaku ngaa ..??"

CINTA berlebih membuat orang terbuai, KENTUT berlebih membuat orang terkulai.

CINTA menyatukan persepsi, KENTUT menyatukan emosi.









READ MORE - Antara CINTA & KENTUT

Kelopak Mawar Kerinduan Dalam Botol

| Jumat, 17 Juni 2011 | 0 komentar |
" Pagi Mia !!" aku mengelap foto kami berdua yang di ambil sesaat sebelum ia pergi naik Kapal.
" Hari ini aku mau ujian, dan aku kangen sama kamu. " Satu tangkai mawar yang ku ambil dari taman depan rumah, ku masukkan dalam botol yang sudah terisi air setengah.

Pagi ini cerah. Radiasi matahari terasa hangat di badanku. Andai kita bisa menikmatinya bersama-sama seperti dulu. Aku selalu mengharapkan hari-hari yang lalu dapat kembali terulang. Sudah lebih dari setahun aku selalu melewati jalan yang sama. Jalan yang selama ini kita lewati ketika berangkat dan pulang sekolah. Hanya ini yang bisa ku lakukan agar aku merasa kamu ada didekatku.

" Don !! loe ngaa bosen apa jalan muter mulu ?? Kan jadi jauh jalannya. " Bastian menghampiriku saat aku tinggal beberapa langkah lagi melewati gerbang sekolah. Aku hanya menggeleng dan kembali berjalan.
" Don !! Udah setahun, apa loe belum bisa relain juga kalau dia sudah pergi ?? "
" Jangan bahas ini lagi. Biar gw lakuin apa yang gw suka. " aku berjalan dengan cepat dan meninggalkan Bastian di belakang.
" Apa loe suka jadi gila ??" Aku pura-pura tak mendengarnya, namun sepertinya aku tak bisa menghidar dari Bastian. Bagaimana pun dia teman sekelas dan sebangku dengan ku. Aku tidak bisa lari kemana-mana. " Harus bagaimana ?? Bilang sama gw. Harus bagaimana ?? " Bastian mendesakku di tempat dudukku.
" Ngaa usah bagaimana. Ngaa perlu ada yang di bagaimanain. "
" Sampai kapan ?? Sampai kapan loe ngaa mau menerima keadaan ?? Mia ngaa akan kembali. Bagaimana pun dia ngaa akan kembali. Jangan bertingkah seperti dia bakal balik lagi !!" Aku tak sanggup menahan air mataku.
" Kenapa harus orang lain yang kasihan dengan hidup loe ?? Kapan loe mau kasihan sama hidup loe yang dibayang-bayangin orang yang sudah meninggal ?? "

Aku ngaa sanggup untuk bicara sepatah katapun dihadapan Bastian. Walau semua ucapan Bastian terasa benar, tapi aku tidak mau menerima apa yang ia katakan. Mia tetap akan hidup, dia akan kembali seperti janjinya. Hanya itu yang mau aku percayak. Aku tak sanggup berada di dekat Bastian. Dia terus memarahiku di depan umum. Tak perduli Bastian ngoceh sekeras apa pun, aku meninggalkannya di kelas. Dengan membawa tas ku lagi, aku keluar dari kelas. Berjalan menuju gerbang sekolah yang belum di tutup dan terus melangkah menjauh dari sekolah.

***

Entah bagaimana dan kemana aku harus pergi, aku sendiri pun tak tahu. Aku merasa terasing di dunia ini. Melangkah kemana pun sama. Aku tetap merasa sendirian. Aku masih tidak bisa menerima angin itu berhembus di tanganku walau aku terus berusaha agar tetap merasakan genggaman tangan Mia. Tuhan, kembalikan Mia kepadaku..

" Jangan sedih, nanti kita bisa telpon atau smsan." Sebelum naik kapal kamu sempat bilang begitu sambil meneteskan air mata dihadapanku. Rasanya sakit sekali saat melihat layar HP. Kamu ngaa pernah telpon, dan ngaa pernah SMS lagi. Apa kamu sekarang sudah pandai membuat janji palsu. Sampai saat ini aku masih menunggu Telon dan SMS dari kamu, Meskipun itu hanya SMS kosong.

Tanpa terasa setelah menaiki bus berkali-kali dan pindah terminal lebih dari dua kali, hingga akhirnya kaki ku berlabuh disebuah tempat wisata. Disana ada pantai. Tepian laut yang membawa Mia selama-lamanya. Tempatnya masih sepi. Masih terlalu pagi untuk mereka yang ingin ke pantai. Aku hanya melihat beberapa orang yang sedang berlari-lari kecil menyusuri bibir laut.

Kaki ku terhenti dan ku lepas sepatuku. Sesekali kaki ku tersapu oleh air laut. Merasa buih dari ombak yang menghempas kaki ku. Aku gemetar dari ujung kaki hingga kepalaku. Air laut ini membuatku merasakan Mia ada di sini. Pipiku basah, air mataku mengalir begitu saja dan tak bisa ku kendalikan.

Sebuah botol plastik bekas minuman menyentuh kakiku. Botol itu terbawa ombak. Awalnya aku tak peduli. Namun entah dari mana, rasanya ada yang menggerakkan hatiku untuk terus mengambil botol itu. Di dalamnya ada kertas. Ku buka tutup botol itu dan ku ambil kertas yang tergulung rapi di dalamnya. Dengan tanganku yang gemetar ku baca sebuah pesan yang tertera di selembar kertas itu.

Rasanya begitu pagi untuk mengucapkan selamat tinggal
Namun rasanya Tuhan telah berbisik di jantungku
Kata selamat tinggal, sebuah kata yang tak akan sanggup kukatakan padanya
Namun Rasanya Tuhan ingin aku mengucapkannya
Kata selamat tinggal, biarlah ombak ini yang mengirimkannya
Karna aku tak sanggup mengatakannya

Mia

Aku tak mampu berkata apa pun. Air mataku mengalir begitu saja. Mia. Begitu yang tertulis do pojok kanan dari kertas yang ku ambil dari botol plastik. Rasanya aku tidak mau percaya, pesan ini seolah untukku. Apa benar ini untukku ?? Apa mungkin ?? Aku hanya dapat memandangi kertas ini.

***

Dengan kebimbanganku, aku membawa pulang kertas dari dalam botol tadi. Sesampainya di rumah aku tak punya pikiran untuk meninggalkan kamarku. Aku hanya terbaring di atas kasurku dan menatap kertas itu.

Aku terus membacanya dalam hatiku. Namun, setiap kali aku membacanya aku seperti sedang mendengar Mia yang membacakanya untukku. Seperti merasakan kehadiran Mia yang terasa lebih dari sebelumnya. Dia seperti duduk di sebelahku yang tengah berbaring. Membelai rambutku. Wajahnya terlihat sedih dan pucat saat membacakan pesan itu untukku.

" Rasanya begitu pagi untuk mengucapkan selamat tinggal. Namun rasanya Tuhan telah berbisik di jantungku. Kata selamat tinggal, sebuah kata yang tak akan sanggup kukatakan padanya. Namun Rasanya Tuhan ingin aku mengucapkannya. Kata selamat tinggal, biarlah ombak ini yang mengirimkannya. Karna aku tak sanggup mengatakannya." Matanya basah. Ingin sekali aku membelai lembut wajahnya dan memeluknya, tapi aku tak mampu bergerak sama sekali. Aku hanya melihat apa yang ia perlihatkan padaku dan hanya mendengar apa yang ia katakan padaku. Bahkan aku tak mampu untuk berbicara padanya.

" Jangan begini. Maaf aku tinggalin kamu. Ini bukan kehendakku. Tuhan yang membuat keputusan kita cuma berjodoh sampai di sini. Aku sayang kamu. Aku ingin kamu bahagia. Dengan kamu bahagia, aku pun bahagia." Tangannya menggenggam tanganku. Yang terakhir sangat pelan. Perlahan Mia seolah memudar dan transparan. Aku tak dapat melihatnya lagi dan aku tak bisa merasakan dia di sisiku seperti tadi.

" Dony..!! Dony..!! Bangun..!! Makan dulu !! kamu belum makan dari pulang sekolah !!" Teriakan dan gedoran pintu membuatku sadar, aku baru saja bermimpi. Kucari kertas yang tadi ku bawa pulang, tapi aku tidak dapat menemukannya.
" Tadi ada di sini. Kemana ??" Aku membongkar selimutku dan mencari ke semua laci yang ada di kamarku.
" Don !! Kamu sudah bangun ?!!"
" Ya ma..!!" Aku masih mencari "Bentar lagi aku kebawah !!" Sudah kucari sampai ke sudut terkecil dari kamarku, namun kertas itu hilang seperti di telan bumi. Berkali-kali kucari, hingga lebih dari dua kali kucari di tempat yang sama. Aku masih belum menemukannya. Mungkin tidak bisa lagi ku temukan.
" Dony !! Turun sekarang !!" Teriak mama dari ruang makan.
" Ya ma..!!" Baiklah, pencarianpun aku hentikan.
" Mau makan aja pake di teriakin dulu !!" Gerutu mama saat aku sampai di ruang makan. Kulihat meja makan sudah penuh dengan makanan. Tapi melihatnya aku tak berselera. Pikiranku masih berusaha mencari-cari di mana kertas itu. Mungkin aku lupa meletakkannya.

Tak ada yang kubicarakan saat di meja makan. Aku hanya menggunakan mulutku, hanya untuk makan. Selesai makan aku kembali kekamarku. Kembali mencari kertas yang sebelumnya juga telah aku cari. Tiga kali, setelah tiga kali aku mencari dan kamarku sudah tidak dapat disebut kamar lagi, aku tetap tidak bisa menemukan kertas itu. Apa aku hanya bermimpi membawa kertas itu pulang ?? Tidak, aku sangat yakin kertas itu ku bawa pulang.

Kamarku yang berantakan tidak langsung kubereskan. Aku terlalu lelah mencarai sampai tidak punya tenaga lagi, untuk merapikan kamarku lagi. Aku terduduk dilantai kamarku. Mataku tertuju pada sebuah kardus yang ada di bawah kasurku. Itu adalah kardus tempat aku menyimpan botol-botol yang sudah penuh dengan kelopak bunga mawar.

Ku tarik keluar kardus itu. Walau rasanya tak mungkin ada disana, aku tetap mencoba memeriksanya. Ku keluarkan satu persatu botol-botol itu. Saat mengeluarkannya kembali aku terngiang dengan pesan yang tertulis di kertas itu. Aku teringat kembali dengan apa yang dikatakan Mia dalam mimpiku. Berkali-kali melintas dipikiranku. Mataku jadi panas dan berair. Air mataku membasahi pipi dan menetes mengenai tutup dari botol yang aku pegang. Aku menjerit dalam hati. Menangis sepuasnya. Dan, kini aku mampu merelakannya pergi.

***

Semalam aku tak punya tenaga lagi untuk membereskan kamar. Di pagi buta aku sudah bangun untuk membereskannya. Botol-botol yang berisi kelopak bunga itu ku masukkan kembali ke dalam kardus. Begitu juga dengan botol yang belum penuh yang ada di atas meja belajar dan foto-foto aku dan Mia yang selama ini ku simpan.

Selesai mandi dan berpakaian lengkap, sebelum mama dan papa bangun, aku pergi ke pantai tempat aku menemukan kertas kemarin. Saat matahari terbit ku lemparkan satu persatu botol-botol dan semua kenanganku bersama Mia, yang ku bawa dalam kardus ke laut. Aku tidak menghilangkannya dari hidupku, Aku hanya merelakannya pergi dan kuharap semua rasa rinduku yang tersimpan di setiap kelopak bunga mawar dapat sampai pada Mia di sana.






Cikarang, 17 Juni 2011
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/



READ MORE - Kelopak Mawar Kerinduan Dalam Botol

Masukkan email untuk update:

Delivered by FeedBurner

DoDoT_KeCiL_MaSiH_YaNg_DuLu