WeLcOmE CoMrAdE
Save The World Today
____Enjoy Your Live Today *BECAUSE* Yesterday Had Gone And Tomorrow May Never Come____
continue like this article, although the road is full of obstacles and temptations

Si Mbah

| Kamis, 22 April 2010 | 0 komentar |
Ruang tamu rumah si Mbah itu berukuran tiga kali lima meter. Bercat putih agak sedikit pink, menandakan si Mbah, penghuninya adalah sudah tua namun gaya hidupnya masih seperti anak muda yang tidak takut mati, agresif, semangat dan penuh kreatifitas.

Menghadap ke depan, sebuah pintu yang senantiasa terbuka lepas sehingga para tamu bebas berkeliaran keluar masuk, meskipun tak lupa mereka tetap selalu mengucapkan salam sebagai bentuk penghormatan. Atap rumahnya yang polos terang dengan ukiran sentimentil di langit-langitnya mengingatkan kepada kesahajaan dan ketulusan. Meskipun di sisi lain, bentuk ruangan yang kotak adalah wujud karakternya yang sangat keras, egois namun tegas.

Setiap hari rumah si Mbah tak pernah kosong oleh tamu. Selalu saja ada yang datang dengan membawa segudang alasan. Ibarat tong sampah, si Mbah seringkali dijadikan tempat mengadu, bertanya, berkeluh kesah, silaturrakhim, buang hajat, bahkan kadang berobat. Ilmu tentang pengobatan itu pernah di dapatkannya sewaktu berada di Tibet. Selama tiga belas setengah tahun dia keliling dunia. Hampir seluruh kota di dunia pernah di jamahnya. Hanya satu kota yang belum di singgahinya, katanya. Yaitu Papua yang ada di Kepulauan Irian Jaya, Indonesia. Entah apa alasannya, tidak jelas.

Sebutan kepada si Mbah bagi kebanyakan orang sunguh sangat beragam. Itu tergantung kepentingan dan pengalaman yang berlaku waktu itu. Bagi para tetangga terdekat memanggilnya dengan Pakde, ada yang memanggilnya Eyang, si Mbah, pak Yai, Tabib, Psikolog, bahkan anak-anak pinggiran kali Cisadane tempat dia menanamkan pengetahuan memanggilnya guru Pandita. Entah apa alasannya, mungkin karena kecerdasan IQ-nya yang dua ratus enam puluh melebihi Enstain, sehingga cara berfikirnya terkesan nyleneh.

Halamannya ditanami pohon jambu cangkokan antara jambu klutuk dengan jambu Bangkok yang menghasilkan buah jambu rasa apel. Daunnya rindang serta tangkainya banyak bercabang, tempat angringan ayam piarannya yang jumlahnya puluhan. Jika tamu yang baru bertandang dan salah parkir, maka kendaraannya memungkinkan akan terjatuhi oleh kotoran ayam dari atas pohon. Untuk itu, demi menjaga kebersihan, si Mbah selalu menyapu dan menyiramnya setiap datang waktu fajar, saat para tetangga masih terlelap dibuai mimpi.

Suatu siang, matahari tepat di atas kepala. Cahayanya menelan panas seperti hendak menerkam bumi. Udara seakan tertekan menggumpal di satu ruang. Seorang tamu bertubuh lumayan gempal bernama Lam Tok; lelaki blesteran Gunung Kidul dan Arab tengah duduk di dalamnya setelah dipersilahkan masuk oleh si Mbah. Dia menghadap persis pada sebuah bingkai foto berwarna hitam putih bergambar Buyut yang terletak di samping jepitan buku-buku bacaan si Mbah yang turut menghias ruang tamu. Gayanya cukup perlente dengan kacamata agak minus disangga hidungnya yang rada pesek.

“Saya datang terus terang membawa masalah Mbah, seperti orang kebanyakan…” papar Lam Tok membuka dialog.

“ Sudah tahu!” tegas si Mbah dengan gayanya yang ndelelek sehingga nampak giginya yang ompong tapi tak pernah menjadi keluhan.

“Ah, si Mbah mengada-ada…?” Lam Tok heran.

“Usaha rumah makan dan tambak udang yang bangkrut itu belum seberapa harganya jika dibandingkan dengan matamu yang sampai saat ini masih bisa melihat”

Betul-betul Lam Tok terkejut. Si Mbah benar-benar bisa membaca pikirannya yang selama ini disembunyikan.

“Tapi Mbah…?”

“Kamu bisa membeli kentut kamu ?”

“Wah, itu hobi saya…maaf,maaf…” Lam Tok sedikit bergurau dan konyol. Rasa malunya di simpan dalam-dalam sekalipun dihatinya terselip kesadaran yang tiba-tiba pecah.

Bayang-bayang makin memendek seiring dengan langkah bumi yang terus berputar. Sementara matahari tampak meninggalkan Timur mulai membentuk waktu asar. Kali ini Lam Tok duduk termangu. Dalam benaknya terbetik kebahagiaan tersendiri. Dia seperti tiba-tiba sembuh dari sakit. Apa yang selama ini dicari telah di dapatkan. Seorang Guru sekaligus orang tua. Dan yang lebih dari itu adalah Pengobat bagi penyakit kekecewannyanya selama ini.

Gemercik air aquarium yang sejak tadi menghiasi ruang tamu seakan sirna. Benar-benar Lam Tok ditenggelamkan oleh kesadaran berfikir baru atas bahasa si Mbah yang dirasakan cukup menikamnya. Dia seakan lumpuh. Sekarang kembali lagi dia mengatakan oh ya,ya … setelah sekian tahun dia menjadi dosen tak pernah mengatakan itu.

Udara masih panas. Lam Tok agak gerah. Selembar kertas dikipas-kipaskan ke muka dan tubuhnya.

“Jadi Mbah, saya nggak perlu lagi memperdulikan kebangkrutan itu…. Biar jiwa saya tenang ?”

“Sebenarnya kamu sudah menjawab sendiri”

“Tapi, bagaimana cara saya memberi pengertian kepada isteri saya, bahwa semua ini adalah takdir ?”

“Kamu salah, itu bukan takdir. Tapi bisa jadi kecerobohanmu, bisa jadi perhitungan akal sehatmu yang tidak sempurna waktu itu, atau bisa jadi memang itu cara Tuhan selanjutnya menyelamatkanmu”

“Bangkrut kok selamat sih Mbah ?”

“Kamu itu pintar tapi goblok tenan”

“ha ha ha….” keduanya tertawa selayaknya bapak dan anak yang sedang bermain kuda-kudaan.

“Kamu mau diberikan kenikmatan Tuhan tapi itu menjadikan kamu makin sombong, kikir, serakah ?” Tanya si Mbah sambil menghisap sebatang rokok yang baru saja di sulutnya.

“ Lha ilmu itu sudah saya dapatkan sepuluh tahun silam, sewaktu masih di Malang. Pasti nggak mau dong Mbah. Tapi kalau kenikmatannya saja ya mau-mau saja” jawab Lam Tok sedikit ndableg.

“Kamu itu memang sudrun Lam Tok, tapi nggak apa-apa, saya senang kok. Itu pertanda kamu masih bisa sehat”

“Hah, saya sakit to Mbah?”

“Ya, sakit Kurang Ajar”

“Ha, ha, ha….” Lam Tok tertawa sambil tanpa sengaja mengelus-elus jempol kakinya sebelah kanan.

“Mbah saya mau tanya satu hal lagi, tapi ini soal lain, dan bukan keluhan” Tanya Lam Tok lagi.

“Syukur kalau sudah sadar !” sahut si Mbah.

Rona wajah Lam Tok tampak sedikit mringis. Pertanda dia cukup geram dengan si Mbah.

“Kalau orang yang saya anggap guru saja sudah gendeng seperti ini. Muridnya lama-lama bisa sableng …., “ gemercik hati Lamtok terbungkus perasaan.

“Begini Mbah, kenapa di negeri kita yang terkenal taat beragama banyak orang yang suka mengusir Tuhan?”

“Sejak kapan kamu belajar filsafat?” Tanya balik si Mbah.

“Saya tanya kok malah ditanya sih Mbah!”

“Pertanyaan kamu itu seperti ketika kamu sedang buang air besar di kamar mandi, kemudian kamu melihat langit-langit, dinding-dindingnya menyesakkan kamu, dan Tuhan tabu kamu sebut di dalamnya. Padahal ketika kamu masih bisa mengeluarkan kotoran, sesungguhnya kamu telah didekap Tuhan, disayang Tuhan, dan ditolong Tuhan”

“Kata Kyai, haram menyebut nama Tuhan di dalam WC”

“Kamu sadar tidak, bahwa setan dan iblis sesungguhnya banyak membangun sarang Penipuannya-nya di dalam WC, kalau Tuhan lantas kamu usir saat itu, lantas kepada siapa selanjutnya kamu menggantungkan satu tetes air kencing dapat keluar dari lubang kemaluanmu dengan normal?”

“Atau, ketika kamu sedang mengajar, yang ada di benakmu hanya sederetan tanggal gajian di awal bulan. Tapi kamu tak pernah perduli bahwa anak didik kamu sekarang tengah depresi dan kehilangan Tuhan, sebab orang tuanya hanya bisa menyekolahkan saja, tapi tak bisa mengenalkan anaknya kepada cara mengatasi masalah hidup yang sejati. Apa bedanya dengan kamu yang hanya bisa mengajari mereka dengan sekedar menjawab soal ?

“Bukankah diam-diam kamu juga telah mengusir Tuhan, sebab kamu telah menjadikan otakmu itu tidak berfikir secara benar, padahal dia adalah universitas ?”

“Coba bayangkan, Apakah Nabi Idris sebelumnya pernah sekolah ketika dia menemukan mesin jahit dan tahu tentang ilmu bintang ?”

“Apakah Nabi Nuh sebelumnya pernah sekolah ketika dia bisa membuat perahu yang sebesar kepulauan Indonesia dalam masa yang sangat panjang ?”

“Apakah ratu Balqis sebelumnya pernah sekolah untuk mengkonstruksi kerajaannya yang berlantai kaca?”

“Apakah Isa, Muhammad, Budha, Kong Hu-Cu, Musa, Darwin, Asoka pernah kuliah sehingga mereka menjadi orang yang sangat diperhitungkan karena keistimewaannya?”

“Ternyata tidak khan…” si Mbah menegaskan dengan kalimat yang cukup panjang.
Lam Tok terpaku sesaat. Sorot matanya lurus menandakan kalau dia tengah berfikir keras.
“Jadi…?” katanya.

Si Mbah tidak langsung menjawab. Disulutnya kembali sebatang rokok. Setelah menghisap tiga kali baru dia menjawab.

“Artinya, kamu jangan mengingkari kehadiran Tuhan di dalam segala hal. Peran serta otak kamu sehingga bisa berfikir itu atas karya siapa, tangan kamu sehingga bisa meraba, kaki kamu sehingga bisa melangkah, hidung kamu sehingga bisa mencium, telinga kamu sehingga bisa mendengar, kemaluan kamu sehingga bisa beranak pinak, perut kamu sehingga bisa merasakan lapar, jantung kamu sehingga darah dalam tubuh bisa mengalir, ingatan kamu sehingga kamu dapat tetap mengenali saudara-saudara kamu, teman-teman kamu, guru-guru kamu, tetangga-tetangga kamu, bahkan musuh-musuh kamu, semua karya siapa ?”

“Jika semua itu tidak kamu manfaatkan ke jalan yang benar apa bedanya dengan istilah kamu telah mengusir Tuhan dalam kedirianmu ?”

“Kenalilah dirimu, maka kamu akan kenal Tuhanmu” papar si Mbah.

“Tapi Mbah, bagaimana dengan si Mbah yang suka merokok itu ? Berarti si Mbah mengusir Tuhan dong…katanya mengotori paru-paru ?” Tanya Lam Tok ngeledek guyonan yang membuat si Mbah merasa seperti di’pukul’ balik.

“Dasar murid bagindul…” geram si Mbah dalam hati.
Tanpa terasa Ashar datang. Keduanya sadar masih banyak tugas yang belum diselesaikan. Lam Tok bergegas pamitan.
Lam Tok melangkahkan kaki keluar pintu. Si Mbah menyusul mengantarkan sampai keluar, sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.

“Yang masalah rokok tadi termasuk kategori mengusir Tuhan tidak Mbah. Tadi lupa dijawab !!?” Tanya Lam Tok mengulang pertanyaannya yang belum tuntas jawabannya memanfaatkan sisa waktu.

“Jawaban tentang itu butuh penjelasan tiga hari berturut-turut. Banyak sisi yang harus dikupas. Pasti kamu belum sanggup mendengarkannya sekarang !” jawab si Mbah sembari menepuk punggung Lam Tok kencang sekali, terus merangkulnya.

“Bukan apologi kan …” sahut Lam Tok.
Keduanya tertawa terbahak-bahak menyusul Lam Tok yang pulang.***
READ MORE - Si Mbah

Hantu Foto

| | 0 komentar |
Hantu FotoGuntur dan gerimis mengiringi kedatangan Dani ke rumah bibinya. Seperti biasa, setahu sekali Dani selalu datang ke rumah bibinya, yang ia sudah anggap sebagai ibunya.“Bibi, aku pulang!!”Panggilan itu diulang lagi oleh Dani, tetapi tak dijawab juga. Dani pun memberanikan dirinya menelusuri ruang demi ruang yang ada di rumah bibinya. Akhinya Dani melihat sesosok wanita yang duduk di samping seorang lelaki. Di ruangan yang pengap sekali.“Bi…….Bibi….”“Oh, kamu Dani…….” Bibi Dani menghhusap air mata yang membasahi matanya.“Kok bibi nangis ?! ”“Enggak kok. Bibi hanya……”“Itu siapa, Bi?” Unjuk Dani kepada lelaki yang duduk dengan kaki terpasung.“Kamu tentu masih ingat kan, ini Sandri, yang dulu sering main sama kamu waktu kecil.’Dani berusaha mengingat – ingat nama itu, sesekali ia memukul kepalanya. Akhirnya ia ingat dengan sosok lelaki itu.“Oh, Sandri!! Yang dulu sering ngambil mangga tetangga ya bu ?! Kok dia sekarang seperti ini sih Bu!?Air mata bibi keluar duluan sebelum ucapan darinya keluar. Bibi terlihat sedih sekali untuk menceritakan hal ini. Setelah terdia beberapa saat, akhirnya bibi mau menceritakan hal itu.“Begini ceritanya, nak.”****“San…..San……” teriak sesosok wanita dari kejauhan.“Siapa ya……!?” Sandri berusaha mengingat – ingat lagi sosok wanita itu, yang terus berlari ke arah dia.“San…..kok bengong aja? Bingung ya ngelihat aku? Atau kamu lupa sama aku?”“Kamu siapa ya…? Kayaknya kita pernah ketemu”.“Ini aku, Siska. Teman kamu waktu SMA dulu. Masa kamu lupa!!!”Sandri berupaya untuk mengingat- ingat nama itu, Siska yang melihat Sandri berpikir keras, juga membantu Sandri untuk mengingat – ingat lagi dirinya, dengan menunjukkan foto – foto waktu mereka SMA.“ Oh, kamu, Siska, yang dulu pernah menang lomba menyanyi tingkat provinsi kan!!”“Nah, itu baru ingat. Dasar master pelupa!!” Siska menjitak kepala Sandri.“Ya…maklum!! Banyak bacaan yang harus dihafal, jadi urusan yang kayak begitu kadang suka lupa.”“Memangnya sekarang kamu jadi apa?”“Fotografer. Eh, kamu mau ikut aku makan siang nggak?”“Mmm……boleh,” Siska langsung menggangdeng tangan Sandri.“Dasar, master makan sama master rayu!!”Siska menjulurkan lidahnya kepada Sandri. Seakan tak menghiraukan ucapan Sandri. Mereka meluncur ke tempat makan favorit mereka. Sandri memesan nasi uduk dengan semangkuk sup ayam didepannya serta lemon tea, sedangkan Siska hanya memesan sepiring pie apel kesukaannya dan segelas susu hangat.“Ngomong – ngomong sekarang kamu kerja jadi apa?””“Aku jadi editor majalah misteri.’ Ucap Siska sambil melahap sesendok pie yang dipesannya.“Kok kamu malah kerja jadi editor majalah misteri. Bukkanya kamu dulu takut sama yang berbau misteri.”“Yah…apa mau dikata. Kerjaan sekarang semakin sudah didapat. Bukan hanya IT, atau kerjaan banking yang susah untuk dapatinnya. Kerjaan seperti aku saja, yang kata orang – orang nggak menghasilkan duit lebih, malah susah juga dapatinnya.” Siska menggambil sebuah catatan kecil dan majalah misteri dari tasnya. Sepertinya ada yang mau ditanyakan kepada Sandri.“San…waktu itu, aku menulis sebuah kasus. Kamu lihat disini deh!!” Unjuk Siska kepada sebuah foto dan artikel di majalah itu, “ Foto cewek itu kelihatan samar dan terpisah dari foto – foto lain. Foto ini diambil tanggal 12 Agustus, dan cewek ini meninggal keesokannya.”“Terus?”“Kamu kan seorang fotografer. Kamu tahu nggak sebab – sebab foto seseorang bisa buram?”“Ehm…biasanya pada saat memfoto kurang fokus, ketajaman lensanya kurang diatur.....”“Atau bisa juga ada hantu foto!?” Siska langsung memotong penjelasan Sandri. Bulu kuduk Siska langsung merinding, ia langsung menutup majalah yang ia tunjukkan kepada Sandri.“Dasar penakut!! Nggak mungkinlah ada hantu foto!!”“Eh, bi….bisa aja tahu!! Kasus ini sudah menimpa sekitar 5 orang dalam jangka waktu satu bulan.”“Ya…nantikamu yang keenam, nanti ia datang ke rumah kamu dan berkata Siska ikut dengan aku!!!Hi..hi..hi!!” kata James seraya menjulurkan tangannya ke arah Siska. Siska yang ketakutan langsung menutupi wajahnya.“James, sudahlah!!! Aku takut tahu!!”“Makanya jangan berpikir yang nggak – nggak!! Jadilah orang yang selalu berpikir positif dan jangan mudah percaya.” Jame skembail melanjutkan makannya setelah puas menakut – nakuti Siska.“Ya…deh. Aku nggak mudah percaya lagi.” Siska mengambil minuman yang sudah tersedia di depannya“Tapi bisa juga sih….” Ucap Sandri perlahan.“Nah, sekarang kamu yang berpikiran kayak begitu!”“A…aku…cuma… Sudahlah, aku mau balik dulu!!” Sandri langsung memanggil pelayan untuk membayar pesanan mereka, lalu bergegas pergi tanpa menghiraukan Siska.“Dasar egois, giliran dia yang takut, malah langsung kabur aja!!” gumam SiskaSelama perjalanan, Sandri terus memikirkan apa yang dikatakan Siska barusan. Ia terus berpikir apakah kasus yang menimpa cewek itu benar kecelakaan murni, atau memang ada campur tangan hantu foto. Sesekali ia berusaha melepaskan hal itu dalam benaknya, tapi hal itu terus menggantung dipikirannya.Keesokan harinya, Siska datang ke tempat kerja Sandri. Sandri pun kaget ketika mendapati Siska datang dengan raut wajah yang stress, dan kurang tidur juga. Seperti orang begadang, begitulah banyak orang menggambarkan raut wajah seperti itu.“San….” Panggil Siska dengan pelan.“Kenapa, Sis? Kok kayak orang stress begitu? Ada masalah ya?”“Ya….aku nggak bisa tidur. Di mimpiku ada seorang cewek yang datang ke kamarku . Cewek itu terlihat sangat pucat. Ia duduk disampingku. Semula aku heran kenapa ia bisa masuk ke kamarku, aku berusaha bertanya kepadanya, tapi ia tak merespon. Lalu, ia menjulurkan tangannya ke leherku, dan mencekiku sekeras mungkin. Aku berusaha melawan, tapi tak bisa. Aku yang serasa sudah mau mati, akhirnya terbangun dari mimpiku itu dan kulihat ke sekelilingku tidak ada sesuatu yang terjadi.” Siska lemas, sangat lemas sekali. Sandri mengambil kursi dan segelas air putih untuk Siska. “Kamu nggak coba untuk tidur lagi?” “Tidak bisa, San!!! Aku berusaha untuk tidur lagi. Memejamkan mataku, tapi wajah perempuan itu terus muncul dimimpiku.”Sandri bingung. ”Mengapa arwah perempuan itu mengganggu Siska? Apakah Siska ada masalah dengan wanita itu?” gumamnya“Aku sepertinya tak ada masalah dengan siapapun, termasuk orang yang meninggal dunia. Tapi, kenapa ???!!” “Mungkin kamu harus berkonsultasi dengan psikiater atau juga kepada ahli – ahli agama.”Siska hanya mengangguk kecil, seakan sudah mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Sandri. Pikirannya masih kosong, apa yang akan dilakukannya masih belum ia pikirkan.“Kamu nggak kerja hari ini ?”“Nggak, aku cuti. Mungkin aku juga ambil cuti selama seminggu. Untuk menenangkan pikiranku.”“Sudah, pulang sana. Tenangkan pikiranmu dulu. Atau kamu ingin di kantorku? Temani aku bekerja?“Nggak, aku mau pulang dulu, thanks ya.”“Sama – sama. Hati – hati di jalan!!”Teriak Sandri dari ruangannya kepada Siska, yang hanya terdengar sedikit oleh Siska.Sandri makin bingung akan masalah Siska. Ia membeli majalah – majalah misteri, termasuk majalah kepunyaan Siska dan buku – buku psikolog. Ia membaca semuanya, namun tak menemukan masalah – masalah seperti Siska dan pemecahannya. Kemudian ia mengambil buku fotografi sewaktu ia kuliah, disitu hanya dijelaskan foto – foto penampakan oleh sebuah foto polaroid ataupun digital, yang belum terbukti kebenarannya. Ia pun semakin bingung, apakah benar hantu foto itu sengaja menggangu kehidupan Siska? Apakah maksud dan tujuan si hantu itu?Keesokan harinya, Siska kembali datang ke kantor Sandri, namun ia tak menemukan Sandri di ruang kerjanya. Ia pun mencari Sandri di tempat pencucian foto, karena pikirnya Sandri pasti sedang mencuci foto atau sedang memotret. Siska masuk ke ruangan itu dan memanggil Sandri dengan suara yang lebih pelan dari kemarin. Sandri menoleh dan kaget ketika ia melihat raut muka Siska lebih muram daripada yang biasa. “Kenapa lagi, Sis? Ia datang lagi? Pakai cara apa lagi,?”“Lebih sadis lagi dari yang kemarin, Ia datang ke kamarku dengan membawa pisau dapur, aku yang melihat pisau itu berusaha bangkit, tapi ia memegang tanganku dan menutup mulutku dengan tangannya, kemudian ia menusukkan pisau itu ke tubuhku sebanyak 13 kali, pada hujaman terakhir, akupun bangun lagi dari mimpiku.”“Kamu sudah konsultasi belum?”“Sudah…aku sudak konsultasi dengan psikiater. Katanya aku mungkin sedang banyak pikiran sehingga aku berpikir yang tidak – tidak. Kepada ahli agama aku disuruh untuk sering berdoa kepada Tuhan.“Ya, kamu ikuti kata – kata mereka!!”Siska mengangguk“Kamu sedang apa?” tanya Siska “Lagi mengeringkan foto – foto ini. Kamu mau lihat nggak, ini foto – foto yang tadi baru aku cuci.” Sandri menyerahkan foto – foto itu kepada Siska. Siska melihat foto – foto itu dengan seksama, namun ia terkejut pada satu foto, foto itu mirip sekali dengan foto pada majalah misteri yang ia bawa. “San… Fo..foto ini mirip dengan foto pada majalah misteri itu.”Sandri mengambil foto itu dari tangan Siska, ai melihat dengan seksama.“Apa!! Nggak ada apa – apa. Kamu mimpi kali!? Mungkin kamu kurang tidur jadi mata kamu kurang melihat dengan jelas!”“Nggak kok, aku benar – benar melihat itu. Foto itu mirip banget sama foto di majalah itu.”“Mungkin kamu mimpi kali!! Sudahlah, aku mau taruh foto – foto ini dulu.” Sandri mengambil foto – foto itu dari tangan Siska.*“San….”ucap Siska di telepon.“Kenapa?”“Lusa, tanggal 13 aku mau pergi ke psikiater di luar kota. Besok bisa ketemuan?”“Bisa….bisa kok. Mau jam berapa?” Sandri langsung mengambil HP-nya dan membuka pengingat, untuk mencatat pertemuan mereka.“Jam 10.30, bisa?”“Jam 11.00 bisa nggak? Soalnya aku ada rapat sekitar jam segitu.”“Boleh, kita ketemuan di taman kota ya.”“Oke.”Sandri langsung meluncur dengan motornya ke taman kota, tempat mereka bertemu. Disana Siska sudah menunggu dengan mantel kotak – kotak dan dandanan yang sangat natural sekali. Ia juga membawa 2 buah soda dan sebuah kamera.“Sis….sorry telat. Tadi aku baru selesai rapat jam 11.00” “Nggak apa – apa kok. Nih, soda buat kamu.”“Makasih. Kamu kenapa, kok ngajak ketemuan? Memangnya ada masalah lagi?” “Nggak, cuman salam perpisahan. Besok kan aku mau pergi, jadi aku ingin ketemu kamu untuk yang terakhir kalinya.”“Ah, kan cuman keluar kota doang.”“Siapa tahu besok aku udah nggak ada di dunia ini lagi!”Bulu – bulu kuduk Sandri berdiri, angin yang menyentuh kulitnya membuatnya ia gemetar. Kata – kata Siska membuat ia ketakutan.“Sis, jangan ngomong kayak begitu dong. Aku takut nih!!”“Loh, bukannya kamu bilang jangan berpikir negatif atas apapun. Kamu jangan pikiran negatif dulu terhadap kata – kataku. Kan kematian datangnya tiba – tiba.”“Oke..oke…Aku mengaku, tapi jangan ngomong kayak gitu lagi.”“Ya…ya…San, kita foto yuk. Buat tanda kenang – kenangan.”Mereka pun berfoto dengan pose mereka masing – masing , mereka berdua sangat senang. Sepertinya masalah - masalah mereka sirna sudah.“Tolong cuci foto itu ya, untukku.”Siska menyerahkan kameranya kepada Sandri.“Tenang saja, besok sebelum kamu pergi, aku akan memberikan ini kepadamu.” Sandri langsung menyimpan kameranya, seakan tak ingin kehilangan momen – momen indah mereka.“Makasih…”*Keesokan paginya, sebelum Siska pergi, Sandri mencuci film di kamera Siska, yang dititipkan kepadanya untuk dicuci. Sandri mencuci foto itu dengan sebaik mungkin, setelah foto itu ia cuci dan keringkan. Alangkah kagetnya Sandri, semua gambar – gambar Siska buram, sedangkan ia tidak.“Kok, gambar Siska buram ya? Padahal semuanya telah kufoto dengan baik.” Sandri pun bingung, lalu ia terpikir sesuatu, kemudia ia mengambil majalah – majalah yang menyimpan foto – foto itu. Ia mencocokannya dan ternyata mirip. Ia memeriksa foto itu dengan seksama, terutama gambar Siska, ternyata dibalik foto itu ada bayangan perempuan disamping Siska, yang menyelimuti gambar Siska dengan tubuhnya, sedangkan wajah Siska dihalangi oleh rambutnya.“Kok, ada per…em…puan…di…foto…i..tu…ya…?” Sandri melempar foto – foto itu. Ia sangat takut, takut sekali.Tiba – tiba ponselnya berbunyi, ia menerima sms dari Siska.“San, udah cuci fotoku belum? Aku udah mau jalan, entar kamu titipkan ya, sama Bibi Surni. Dah…”“Gawat, aku harus menyusul Siska, dan mengatakan bahwa ia tidak boleh pergi, akan ada bencana besar menimpa dia, seperti korban – korban lainnya.”Sandri pun bergegas menuju motornya dan mengendarainya menuju rumah Siska. Akhirnya, ia sampai di rumah Siska, tapi ia sudah pergi.“Kemana ia pergi, bi!?”“Tadi sih ke arah sana, den. Emangnya ada apa, den?” ucap Bibi Surni sambil menunjuk arah yang dilalui oleh SiskaSandri langsung menelusuri jalan yang ditempuh Siska, tapi sampai tengah jalan motornya mogok, terpaksa ia menintipkan motornya, dan berlari menuju mobil Siska yang sedang antri bersama mobil lainnya di lampu merah. “Sis…sis..tunggu aku. Kamu jangan pergi!!” ucap Sandri berulang – ulang sambil berlari menuju mobil Siska. Namun, asmanya kambuh pada saat perjalanan.“Ayo, dong asma jangan kambuh.” Sandri berusaha sekuat mungkin untuk berlari, tapi ia sudah lemas, ia pun mengeluarkan inhalernya dan duduk di jalanan untuk berstirahat sebentar. Tapi mobil Siska sudah jalan bersama mobil yang lainnya. Di lain arah, ada sebuah truk gandeng yang menerobos lampu merah, dan menabrak deretan mobil di depannya, termasuk mobil Siska.“Siska…..Siska!!!!!” teriak Sandri sekencang mungkin di antara sekerumunan orang yang berlari menuju lokasi kejadian.**“Jadi, Sandri melihat denagn mata kepalanya sendiri temannya tewas dengan tragis.” Tanya Dani kepada bibinya yang terus menangis menceritakan kisah anaknya.“Ya….setiap hari ia memanggil nama temannya, warga sini sudah mengira ia gila dan memaksa ibu untuk memasung dia, akhirnya ibu lakukan saja, dengan terpaksa tentunya.”“Ibu sudah membawanya ke psikiater?”“Sudah banyak psikiater yang ibu kunjungi, termasuk ahli – ahli pengobatan, namun ia tak sembuh juga. Sepertinya ini penyakit yang sulit disembuhkan.”“Tabah ya, Bi” Dani menempuk pundak bibinya, bibinya sangat terpukul atas kejadian – kejadian itu.“Makasih. Ayo makan dulu. Kamu pasti sudah lapar.” Mereka berdua pun bangun dari temat duduk mereka yang sudah mereka tempati selama beberapa jam. Namun, sesuatu yang terselip di tas Dani, jatuh dan mengenai wajah Sandri.“Ups…maaf. Sini saya ambil.”Sandri tak mengembalikan barang itu, ia melihat isi dari kantong tersebut, dan ternyata adalah foto – foto kepunyaan Dani, setelah ia melihat dengan seksama. Ia menangis dengan kerasnya, seperti waktu ia melihat kematian Siska.“Dia datang lagi, dia datang lagi. Dia akan membunuh kerabatku lagi!!!” Kata – kata itu terus diulang dengan suara yang keras. Ibunya Sandri langsung menenagkan Sandri. Ia pun melihat foto – foto yang dipegang oelh Sandri, ia tercenang akan foto –foto itu.“Dani, hati – hati!! sesuatu yang hebat akan menimpa kamu, sama seperti yang dialami Siska.”“Ma…maksud Ibu!?” tanya Dani heran“Ya…kematian mengenaskan oleh hantu foto.”
READ MORE - Hantu Foto

Kasih judul sendiri...??

| | 0 komentar |
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya.

“Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku.

“Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya.

“Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas.

“Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya.

“Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku.

“Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah.

Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella.

“Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik
Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.
READ MORE - Kasih judul sendiri...??

Di gilain cewe

| | 0 komentar |
Dua orang cewek dan seorang cowok sedang nongkrong di kantin. Mereka bersahabat sejak lama. Namanya Ranti, Isma, dan Wawan. Mereka sedang ngobrol asyik.
"Is, lo tahu ga?" Tanya Ranti.
"Ya ga lah. Lo kan belom ngomong," jawab Isma.
"Gini loh, ternyata temen kita yang satu ini digilain cewek," kata Ranti sambil senyum-senyum ngeliatin Wawan.
"Masa?!" Isma surprise. Karena setahu dia Wawan sering banget di tolak cewek.
" Ah...perasaan ga deh. Biasa aja," jawab Wawan ge er, sok cool.
"Kemarin gue lihat dia lg jalan di taman kota. Trus gue lihat dia ketemu Dinda, idolanya sejak jaman smp dulu."
"He eh. Trus?" Isma ga sabar.
"Trus ya biasa lah, ngeluarin jurus mautnya alias rayuan gombal."
"Trus reaksi tuh cewek gimana?"
Wawan diem aja, merasa bahwa dia bakalan jadi topik yang menarik.
"Ya dagampar lah. seperti biasa"
"Ha ha ha............," Isma kaetawa."
"Trus tuh cewek ama sohibnya bilang gini, ' GILA LO GILA LO' gitu."
Isma dan Ranti ketawa bareng,"ha ha ha....................."
"SIALAN," sungut Wawan sambil berlalu pergi.
Isma dan Ranti,"ha ha ha..............................."
READ MORE - Di gilain cewe

Aku tak butuh cinta

| | 0 komentar |
Cuuy gw balik dulu yaaah”ucap gw ketemen temen gw yang lagi pada nongkrong di depan kampus,waktu menunjukan pukul empat sore,mata kuliah bahasa inggris udah bener bener bikin perut gw yang kroncongan tambah melilit,akhirnya gw putsin usai kuliah gw mau langsung ke kostan temen gw,karna gw pikir semoga dikostannya ada sesuatu yang bisa mengganjal perut gw yang kroncong protol,yang cuma baru di isi dua buah kueh pancong tadi pagi,hari ini gw bener bener boke,miskin,pakir,kere,ntah apa lagi istilah lain yang lebih daramatis,yang hanya bermodalkan duit gopean yang nyelip di kantong celana yang kemudian gw beliin kueh pancong yang terletak disamping kampus sewaktu gw mau berangkat kuliah,setelah itu ta ada lagi Sesutu yang masuk ke dalam perut gw,mungkin untuk saat ini gw adalah seseorang yang berhak mendapatkan pundi amal SCTV,karna emang gw bener bener ga megang duit sama sekali,bahkan pengemispun jauh lebih kaya ketimbang gw,makanya setelah pulang kuliah gw lebih memilih balik ketimbang nongkrong nongkrong yang paling Cuma di sodori rorko doang yang sama sekali ga bisa membuat perut gw merasa sedikit bahagia,di sepanjang perjalanan menuju kostan temen gw,gw Cuma bisa tertunduk simpul menahan perasaan melihat serentetan pedagang pecel lele,seefood,surabimod,dan gorengan yang terjejer manis di kawasan panorama yang terletak di kota bandung,godaan dan rintanganpun gw hadepin sampai akhirnya gwpun sampai juga di kostan temen gw,rasa bahagia,sedih,,harupun bercampur aduk dalam perasaan gw saat ini,sekalipum gw belum mendapatkan apa apa,setidaknya gw merasa bahagia telah berada tepat di depan pintu kostan temen gw,tak sabar rasanya untuk masuk dan menikmati makanan makanan yang terjejer manis di dapur,dengan antusias gw pun mengetuk pintu kostannya,
“hallo,,smlikum”ucap gw sambil mengetuk pintu kostannya,taklama kemudian muncul seseorang di balik pintu “eeh lo nang,,”ucapnya kaget ngeliat gw “ayo masuk”printahnya.
“giman kabar lo deen”Tanya gw sambil masuk kamarnya dan duduk di depan televisi..
“maksud loo…?”
“ngga,, kabar lo sehat ga?”Tanya gw lagi sembari mengambil remot yang ada di depan gw
“sehat.!!”ucapnya santai
Gw bingung harus ngomong apa lagi,sesaat kami terdiam,gw hanya bisa ngutak ngatik remot TV yang membuat ga jelas acaranya,akhirnya sidenipun kesal ngeliat gw yang ga jelas mau nonton apa,
“nyari apaan siih lo nang?”ucapnya kesel
“ga tau niiih acaranya ga ada yang bagus” jawab gw tanpa menoleh ke arahya.
“ohya,,ngomong ngomong kebeneran nih lo kesini”
Akhirnya tanda tanda dia akan nawarin makanan pun sudah terdengar jelas di telinga
“yaiyalaaah,,gw kan punya radar”ucap gw cengengesan “sinyal kuat indosat” ucap gw lagi
Si deni malah geleng geleng kepala “gila emeng temen gw yang satu ini tau aja kalo gw lagi butuh pertolongan”
Gw terdiam sejenak,ntah apa maksud dari omonganya itu,kalo dia sekarang lagi butuh pertolongan,Aaah paling paling itu Cuma masalah nganter dia kewarnet,ucap gw dalam hati
“maksud lo den?lo minta gw nganter lo ke warnet lagi,,,!!”
“bukan itu maksud gw nang,,”kali ini dengan tempang melas
“Oooh masalah yang itu!!”ucap gw so yakin
Kali ini ia sedikit tersenyum mendengar ucapan gw “ iya nang masalah itu,,lo paham kan?”
“he,,he,,tenang aja msalah itu mah,nanti gw bakal bilang sama si rini kalo lo cowo baik baik,,bukan gay dan tida homo..”
Tampangnya kini memelas lagi “bukan itu maksud gw nang,,!!”
Sebuah pertanyaaan yang telah membut gw ternganga “laah terus masalah apa dong??”
“gini nang”desahnya “dari tadi pagi gw belum makan apa apa tau,,!gw mau beli makan ga ada duit mau masak di dapur ga da yang bisa di masak sama sekali,,makanya kebeneran lo kesini,,gw mau minjem duit sama lo nang..!!!ada ga??”
Sebuah ungkapan yang telah membuat gw tersipu,gw hanya terdiam mendengar keluhanya yang ternyata lebih parah ketimbang gw,akhirnya gw jadi lebih sadar ternyata di bawah langit ada langit lagi,
“untuk masalah ini gw ga bisa bantu lo den”ucap gw tega
“jadi lo ga mau minjemin gw niih..?”tanyanya dengan mimik super melas,gw jadi tambah ga tega ngeliatnya,namun apalah daya diri ini tak bisa berbuat apa apa.
“bukanya gitu cuuy,,”ucap gw sembari menepuk pundaknya, “untuk masalah ini kita senasib,,gw kesini sebenarnya tida lain dan tida bukan mau numpang makan sama lo,,yang tadinya gw pikir kali aja lo ada makanan yang bisa gw makan,,nyatanya kita senasib den,,sama den gw juga belum makan apa apa dari pagi Cuma dua buah kueh pancong yang baru masuk kedalam perut gw,,”
Sideni juga melongo mendengar pernyataan gw yang juga menyedihkan
“trus gimana doong,,??”tanyanya
“yaudahlah den,,klo gitu gw mau balik aja,,gw mau tidur”ucap gw yang kemudian berdiri dan berbalik menuju pintu
“yaudah deh,,kalo gitu gw juga mau tidur”
“oke den,,gw cabut yaah”ucap gw setelah beres memakai sepatu
“hati hati yaa,,moga kita mimpi makan besar nang,,,nanti awas jangan pelit lo yaah”
“siap”ucap gw sambil meninggalkan kostannya.
Heeh,,tenyata bayangan makanan itu hanya ada dalam negri dongeng,beginilah keadaan anak kost yang belum dapet kiriman,hanya bisa berharap bisa bermimpi indah.setelah itu gw pun pulang ketempat di mana gw tinggal,sebuah kamar kost yang gw harap mengeluarkan keajaiban berubah menjadi sebuah mall besar atau seengganya alfamart,atau kalo ga warung juga ga apa apa,,,namun itu tadi !!
itu hanyalah sebuah hayalan tingkat tinggi,tak ada yang berubah dari kostan gw,setibanya gw di kostan waktu menunjukan pukul enam sore,kayanya kurang lazim kalo gw harus tidur magrib magrib kaya gini,kemudian gw pun menengok ke kostan temen gw yang berada tepat di samping kostan gw,boris namanya,mahsiswa asal medan yang merantau ke bandung untuk mencari kebahagiaan untuk masa depan katanya,untuk saat ini gw butuh pertolonganya,gw perhatikan kostanya pintunya terbuka lebar,gw lihat dia tengah asik tidur tiduran sembari melihat TV,gw pun berjalan menghampirinya
“eeh kou,,nang”ucapnya kaget yang ternyata sedang menonton bokep,lalu aku duduk di sampingnya
“nang,,kou sudah makan belum?”pertanyaan itu membuatku tersenyum “aku belum makan ris,,”
Ia malah tersenyum mendengar kata kata gw barusan, “kalo gitu kita sama nang,,kau mau makan tak??”ucap siboris sembari memukul paha gw
“ya mau laah”jawab gw antusias
“kalo gitu,,aku..teraktir yaah nang?”ucapnya antusias pula
Gw tersenyum mendengarnya“waah yang bener lo,,boleh boleh”
“tapi aku mau salat magrib dulu yaah nang,,”
“Oke siap,,berarti abis magrib kita makan niiih”
“yaudah mending kamu salat magrib dulu sanah”ucapnya sembari mengusir gw dari kostannya.
Akhirnya keajaiban datang juga,cacing cacing yang ada dalam perut gw langsung pada cengengesan mendengar kalo abis magrib gw akan makan.
Lima menit telah berlalu dimana gw juga udah kelar melaksankan salat magrib,siboris yang katanya mau nraktir gw itu pun udah manggil manggil di depan kamar gw
“Naang,,anang,,ayolah kita jalaan aku sudah lapar kali niiih”
“iya,,iya sabar”ucap gw sembari membuka pintu kostan
“kau mau makan apa nang?”ucapnya santai,gw hanya terdiam sesaat Gila niih temen gw yang satu ini bener bener pengertian sampai sampai nawarin gw mau makan apa segala,batin gw!
“gw maah ga mau muluk muluk ris,,gw cukup pengen makan mie kocok aja,,emang lo mau makan apa?”
“yaah aku terserah kau,,?”
Gw sedikit bingung mendengarnya“yaudah terserah lo aja deeh,,yang penting gw makan”
Lalu kami pun turun dan berangkat menuju warung terdekat,sesampainya di warung siborispun dengan penuh antusias memanggil manggil si pemilik warung
“halloo spada,,!!bang,,aku mau beli niih”ucapnya untuk ketiga kalinya
Kemudian muncul si pemilik warung “yaah beli apa yaah de,,?”
“aku amu beli miee kocok dua bang,,buat aku satu buat temen aku satu”
Si pemilik warung itupun mencarinya kemudian balik lagi dengan membawa satu buah mie kocok
“waah de,,mie kocoknya tinggal satu!!”
Si boris pun berbalik ke arah gw dan meminta persetujuan gw, “yaah terserah loo,,tapi mending nyari warung lain aja laah!!”karna mengutamaka kebersamaan gw pun menyuruhnya untuk membatalakannya,
“waah kayanya aku tak jadi beli bang soalnya kata temen aku ta usahlah kalo Cuma ada satu”
Dengan sedikit perasaan kecewa kamipun meninggalkan warung itu, segera kami pun menuju ke warung berikutnya namun apalah daya sial lagi lagi tak bisa di hadang,sesampainya disana ternyata warung itu tutup,boris pun berinisiatip untuk balik lagi kewarung sebelumya dan mengalah untuk tida harus dapat yang mie kocok
“sudah laah nang aku cape,,lebih baik kou beli mie yang disana saja laah,,ta apalah bukan aku yang mie kocok”ucapnya melirik kerah warung yang pertama
“yaudaah kalo gitu,,biar gw aja yang beli,,sini uangnnya”ucap gw sambil menyodorkan tangan
Boris malah kaget “loooh ko minta duit sama aku”
“laah katanya lo yang mau neraktir gw”
“yaah aku sudah bilang sama kou ,,aku ,,”menujuk kearah dirinya “teraktir yaah”lanjutnya lagi
Aku tersenyum lemes mendengarnya “kirain gw lo yang mau neraktir gw”
“berarti tadi,,”ucap kami serentak,celingukan sambil menunjuk kearah warung itu.
Dan kami pun tertawa terbahak bahak,sambil bergantian menjendulkan kepala,
“untung ajaa mie kocoknya ga ada,,coba kalo ada,di Tanya duit,celingukan kita!!”ucap gw sambil tertawa
Akhirnya kami pun kembali ke kostan dengan tangan kosong,perut memeng melilit namun meski begitu gw seneng bisa merasakan ternyata perbedaan itu indah,si boris yang bermaksud begini ternyata gw anggap begitu.tapi buat gw sekarang yang penting hati senang walau pun tak punya uang. iya ga?
READ MORE - Aku tak butuh cinta

Diskusi Burung

| | 0 komentar |
Beberapa burung yang berlainan jenis dan karakter mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut mereka sepakat bahwa harus ada seorang raja yang akan memimpin mereka. Seluruh burung telah mufakat bahwa tidak ada yang pantas menjadi raja, kecuali burung rajawali.
Burung – burung tersebut mendengar kabar bahwa burung rajawali yang dimaksut berada disebuah tempat yang sangat jauh. Namun dorongan kerinduan mereka dan semangat mencari, membulatkan tekad mereka serta tetap kukuh untuk pergi ketempat burung rajawali. Mereka sangat menginginkan untuk berkupul ramai – ramai di tempat kediamannya. Mereka telah siap melayani sang raja yaitu burung rajawali. Kian hari bertambah, bertambah pula kerinduan dalam relung jiwa mereka. Mereka bersumpah,”Ditempat mana pun engkau berada, kami akan tetap mencarimu, karena engkau adalah sang raja yang tiada tara!”
Maka, mereka terbang untuk mengunjungi tempat sang rajawali tersebut. Ditengah perjalanannya mereka mendengar suara gaib,”Kalian jangan membinasakan diri dengan tangan – tangan kalian. Diamlah kalian di tempat, kalian akan bertambah repot dan akan menghadapi bahaya serta akan menghadapi kebinasaan.”
Ketika mendengar suara tersebut, rasa rindu dan kangen mereka semakin menggila. Mereka tidak berhenti namun terus merambah hutan belantara untuk sampai ke tempat yang dituju. Tiba – tiba muncullah bewara,” Di depan kalian ada hutan belantara, gunung yang tinggi, lautan yang ganas, lembah salju yang sangat tinggi teemperaturnya, dan tempat yang kadar panasnya tidak normal. Sudah barang teentu kalian tidak akan terhalang meraih apa yang kalian cita – citakan. Karena kalian akan segera dijemput oleh kematian. Jadi, yang paling aman bagi kalian adalah kembali ketempat semula kalian!” Namun, para burung – burung tidak menghiraukan himbauan tersebut. Mereka tidak perduli sama sekali. Mereka tetap melanjutkan perjalanan sambil bersenandung.
Jika yang dicari sangat agung
Kecillah sudah segala rintangan
Kendaraan kesungguhan dan kebulatan hati mendorong mereka untuk terus terbang melayang. Mereka telah terbelenggu oleh pelana rindu dan dikungkung oleh rasa asyik yang tinggi. Mereka terus bersemangat untuk mencari sang burung rajawali. Kondisi yang menggoncangkan dan menimpa mereka. Sebagian burung yang berasal dari daerah iklim panas binasa setelah memasuki daerah yang beriklim dingin. Sedangkan burung – burung yang berasal dari daerah iklim dingin mati setelah memasuki daerah yang beriklim panas. Mereka banyak yang tersambar petir dan tersapu angin topan. Sehingga, yang tersisa dan yang bisa sampai ke tempat sang raja tinggal sedikit jumlahnya.
Akhirnya, burung – burung yang tersisa sampailah didepan halaman kediaman burung rajawali. Mereka berhenti dan berteduh dibawah atap rumah rajawali. Mereka mencari perantara yang bisa menyampaikan tentang kedatangan mereka ke sang raja dan saat itu sang raja berada di puncak benteng. Ia sedang dikelilingi oleh para penjaganya.
Burung – burung itu pun menemukan seorang yang dapat menghadap kepada sang raja untuk menyampaikan kedatngan mereka. Setalah mendapat kabar dari rombongan burung – burung, burung rajawali menyuruh menanyakan untuk apa kedatangan mereka ketempatnya. Burung – burung itu menjawab,” Kami datang untuk meminta rajawali menjadi pemimpin kami.” Lalu dikatakan kepada mereka,” Kalian hanya merepotkan diri!! Aku telah menjadi raja disini. Saya tidak butuh dengan kalian.”
Ketika mendengar apa yang dikatakan oleh burung rajawali itu, mereka merasa putus asa. Mereka merasa kebingungan, sulit dan pusing. Namun, mereka tidak patah semangat. Mereka berkata,” Tidak ada jalan untuk kembali. Kekuatan kami telah terkuras habis dan kita telah terhantam oleh cuaca. Kalau kita kembali, sama saja tidak berarti. Kita harus tetap disini sampai kita mati!!”
Akhirnya, burung – burung itu diam dihadapan rumah sang raja. Beberapa mereka ada yang tidak kuat dengan kelaparan, kepanasan, dan kedinginan, sehingga mati. Ketika keputusasaan semakin mewabah kepada mereka, nafas – nafas mereka sudah terasa sumpek, tiba – tiba mereka mendapat nafas kelegaan.” Tidak sepantasnya kalian putus asa. Sebab, tidak ada yang putus asa dari rahmat ALLAH, kecuali orang – orang yang rugi. Jika rasa kaya diri mendorong merasa bangga, kemuliaan jiwa mendorong untuk toleran dan menerima. Setelah kalain tahu kadar ketidakmampuan untuk mengenal kekuasaan Kami, merupakan keniscayaan kami untuk menyambut kalian dan menempatkan kalian. Tempat ini adalah teempat kebahagaian dan persinggahan kalian”
READ MORE - Diskusi Burung

SELAMAT TINGGAL SAHABAT…!!!

| | 0 komentar |
Di sudut kota nan indah dengan sinar sang mentari yang mengiringi langkah kaki empat remaja berseragam abu-abu putih menuju sekolah. Mereka adalah Etha, Indra, Gadis dan Zha. Berbeda sekolah bukan jadi hambatan buat mereka untuk selalu kompak. Dengan saling menghargai, menghormati, menyayangi dan saling mengerti, mereka bisa mempertahankan persahabatan mereka dari kecil hingga mereka tumbuh menjadi remaja yang tlah mengerti kata “cinta”. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama. Ketika mentari tlah menampakkan teriknya, mereka pulang sekolah, juga bersama-sama.Demikian pula seterusnya, langkah kaki mereka slalu diiringi dengan senyum manis dan semangat tuk meraih cita-citanya kelak. Namun keceriaan mereka jarang terdengar lagi, bahkan hilang. Beberapa minggu ini Gadis tidak pernah lagi ikut belajar kelompok. Berangkat sekolah pun diantar supirnya, bahkan untuk sekedar bertemu sahabat-sahabatnya pun Gadis gak pernah.Dan teman-teman Gadis merasakan perubahan Gadis akhir-akhir ini.
***
Pada hari minggu, Zha dan Indra bermain ke tempat Etha. “Ta, In kalian ngerasa gak kalo Gadis tu berubah akhir-akhir ini?” Zha memecah kesunyian siang itu. “Iya… aku juga mgerasain kalo Gadis itu beda banget, sebenarnya ada apa to ma Gadis, jujur aku kehilangan Gadis yang dulu. Trus juga aku udah kangen nich ma Gadis, dah lama banget gak ketemu. He… he…” jawab Indra sok sewot.“Ih, please dech, jangan lebay gitu, biasa aja, lagian kan kalo kangen juga bisa to SMS? Negara udah maju kok bangsanya masih ketinggalan jauh, kuacian buanget to?? Manja banget jadi cowok!” sahut Etha dengan wajah sewot.“Wah ada yang cemburu nih In, Etha marah tu kamu ngomong gitu.”, ledek Zha.“Biasa, aku kan cowok paling cakep disini, jadi maklum aja kalo aku banyak yang suka, tapi maaf-maaf aja ya, aku udah punya cewek yang paling aku sayangi didunia ini, Gadis gitu. Kalau pun mau nunggu aku gak ada yang nglarang sih, tapi ngantri ya, banyak yang mo daftar jadi cewek ku,,, he,,, he…” cetus Indra becanda.“Ih… jadi cowok GR buangeeet to In, siapa juga yang suka ma kamu, emang gak ada cowok laen pa? Sorry-sorry aja ya,,,” sahut Etha sewot.“Tapi aku takut kalo Gadis tu berubah gara-gara dia deket ma Thomas. Denger-denger Thomas juga suka ma Gadis.” sambung Etha.“Yang bener Ta? Mang kalo disekolah mereka gimana?” Tanya Indra pengen tau.Obrolan mereka masih berlanjut sampe gak terasa hari udah sore. Dan akhirnya mereka pulang. Seperti biasanya mereka berangkat sekolah bersama dan masih tanpa Gadis. Ketika Etha sampai dipintu gerbang sekolah, Etha melihat Gadis di bonceng Thomas dengan motor gedenya. Etha setengah gak percaya dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Etha lari mengejar Gadis sampai masuk kelas.“Dis aku salah lihat kan, aku tadi lihat kamu dibonceng Thomas. Aku salah lihat kan?” Tanya Etha dengan nafas tersengal-sengal.“Emang kenapa kalo aku berangkat bareng Thomas? Gak salah kan? Iya, aku tadi pagi dijemput Thomas dan berangkat bareng. Kenapa? Mau ngadu sama Indra? Silahkan aja, aku gak takut.” Jawab Gadis ketus.“Ha… jadi itu semua bener? Dan gosip disekolah itu bener? Kalo kamu jadian sama Thomas? Kamu gak mikirin perasaan Indra? Aku gak tahu gimana caranya kasih tahu Indra kalo kamu kayak gini.” Tanya Etha yang masih gak percaya.“Kamu gak tahu caranya ngomong sama Indra? Gampang nanti aku bantu, aja aku masuk dulu ya, mau ketemu Thomas lagi. Permisi!!” jawab Gadis angkuh. Sepulang sekolah, Etha gelisah, takut, kalo semua yang dipikirkan itu terjadi. Ketika Etha bertemu dengan Zha dan Indra di taman kota, Etha terlihat pucat dan lemas.Tiba-tiba dari kejauhan, terlihat Gadis pulang sekolah dengan Thomas. Apa yang ditakutkan Etha terjadi juga. Gadis berhenti disamping Indra dan menyapa.“Hey In, gimana kabarnya? Baek kan? Jangan kaget gitu ah wajahnya, biasa aja. Ya udah deh, aku pergi dulu ya, bay-bay…”. Gadis berhenti disamping Indra dan menyapa. “Heh… dasar cewek gak tau sopan santun, dasar!!” teriak Zha.“Jadi itu yang mau diomongin ma kita Ta? Kalo tau itu yang mau kamu omongin, aku milih gak tahu.” Cetus Indra dengan wajah pucat, dan tiba-tiba Indra pingsan dijalan. “Indra, kamu kenapa? Maafin aku In, aku gak bermaksud buat nyakitin perasaan kamu,”kata Etha sambil nangis. “Taksi-taksi” Teriak Zha.“Ke runah sakit Pak, cepetan ya Pak” seru Etha cemas. “Udah Ta, jangan mikir kamu yang salah, justru dengan Iin tahu yang sebenarnya, itu malah lebih baik!” kata Zha nenangin Etha. “Makasih Pak,” kata Etha sambil membayar ongkos taksi, dan Zha membawa Indra masuk ruang pemeriksaan dengan suster jaga hari itu.Zha dan Etha cemas menunggu hasil pemeriksaan Indra.“Maaf saya bisa berbicara dengan keluarga pasien? Saya ingin memberi tahu bahwa pasien Indra harus dirawat disini untuk pemeriksaan lebih lanjut.” Kata dokter.“Baik Dok, kami akan memberitahu keluarga Indra. Kami akan kesini untuk menjaga Indra, kami izin pulang dulu, permisi” Zha berpamitan dan pulang mengambil barang-barang yang dibutuhkan dirumah sakit.Tak lama kemudian, Zha, Etha dan Bang Ridho datang menengok Indra. Etha menunggu Indra sampai pagi, dan ketika bangun, Zha sudah berseragam lengkap.“Kamu mau berangkat sekolah gak? Kalo gak, nanti aku mampir ke sekolah mu, nganterin surat izin buat kamu!” Tanya Zha. “Aku gak berangkat sekolah sebelum aku tahu penyakit apa yang Iin derita, makasih udah mau mampir ke sekolah ku.” Jawab Etha. “Selamat pagi, bagaimana kondisi Indra? Oh, iya Dokter Hendra ingin bertemu orang tua pasien di ruangan beliau, mari saya antar” sapa Suster dengan ramah.“Tok… tok… tok”“Masuk”“Maaf Dok ini kakak pasien, permisi” kata Suster lalu keluar ruangan. “Silahkan duduk,” kata dokter Hendra. “Terima kasih, Dok, Iin gak papa kan Dok? Dia kenapa Dok?” Tanya Bang Ridho gelisah.“Sebelum saya memberi tahu Indra sakit apa, saya ingi tahu, apa Indra sering mengeluh sakit kepala?” Tanya Dokter,“Iya Dok, kadang-kadang kalau sakit kepalanya bener-bener sakit, dia sering juga pingsan.tapi tidak mau dibawa kerumah sakit, katanya sudah biasa nanti juga sembuh sendiri gitu Dok. Memengnya adik saya sakit apa Dok?” Jelas Bang Ridho, “Begini , menurut hasil pemeriksaan kami, Indra terserang penyakit kanker otak, stadium IV dan menurut perkiraan medis usia Indra tinggal satu bulan. Pada tubuh Indra, terdapat sel-sel tubuh yang tumbuh tidak normal. Segala sesuatu yang membuat kita mendapatkan paparan bisa menjadi pencetusnya. Tapi ada juga kemungkinan lain yang membuat Indra terserang penyakit yang tergolong mematikan ini, diantaranya, karena faktor genetik, karena trauma dimasa lalu atau terbentur benda keras, pola hidup yang tidak sehat juga bisa menjadi penyebab kanker secara umum. Penyakit ini termasuk susah untuk ditakhlukkan. Dengan obat pun itu mahal biayanya,” jelas Dokter Hendra.“Astaghfirullah, adikku, lalu bagaimana saya memberi tahu adik saya?” Tanya Bang Ridho cemas. “Kalau saya sarankan, jangan sekarang anda sampaikan, tunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya. Saya mengerti betul perasaan mas Ridho, yang sabar ya mas?, jangan lupa berdoa untuk Indra ” Jawab Dokter Hendra. Bang Ridho meninggalkan ruangan denga air mata yang gak bisa berhenti mengalir. Bang Ridho berhenti di taman rumah sakit dan merenungi takdir adiknya yang usianya hanya dalam hitungan bulan. Tiba-tiba dari jauh terlihat Etha datang menghampiri Bang Ridho, “Bang, Bang Ridho kenapa? Gimana hasilnya? Iin sakit apa Bang?” Tanya Etha pengen tahu. “Ta, abang tahu, Etha sayang kan sama Iin? Abang titip pesen aja sama Etha, tolong jaga orang yang Etha sayang sebelum dia meninggalkan Etha buat slamanya.” Kata Bang Ridho sambil meneteskan air mata. “Maksud Bang Ridho apa? Iin sakit apa Bang? Sakit apa? Etha janji bakal jagain Iin, tapi bilang dulu sama Etha, Iin sakit apa??” Tanya Etha sambil merengek-rengek. “ Ta, Iin terserang penyakit KANKER OTAK stadium IV, dan perkiraan medis usia Iin hanya tinggak satu bulan. Tapi tolong jangan bilang dulu sama Iin” jelas Bang Ridho. “A…pa…” Buah yang dibawa Etha untuk Bang Ridho jatuh. Etha lari menuju kamar Indra. Ternyata Indra sedang tidur. Ketika tidur, Etha menunggu Indra sambil menulis sesuatu di didalam buku diary, dia mencurahkan semua perasaannya pada Indra. Tiba-tiba Etha mendapat telepon dari Zha yang baru saja pulang dari sekolah, “Kenapa Zha?” Tanya Etha dengan suara lirih. “Kamu udah tau belum kalo liburan besok, Gadis diajak ke Paris sama Thomas. Sialan tu cowok, berani-beraninya dia bawa anak orang seenak hatinya.” Jawab Zha. “Ohhh… Zha, ada kabar tentang Iin, tapi jangan bilang dulu sama Iin, Iin terserang penyakit kanker otak stadium IV, dan usia Iin tinggal satu bulan lagi. Gadis belum tau kan? Mau dikasih tau gak?” kata Etha lirih menahan tangis. Telepon itu tiba-tiba terputus, gak lama kemudian Zha masuk kamar Iin. Zha merangkul Etha ketika melihat Indra tidur. Mereka berjanji akan membuat hari-hari terakhirnya bahagia. “Halo, Mama ini aku Ridho, Mama lagi sibuk gak? Bisa datang kesini sama Papa gak?” suara Bang Ridho dari luar yang sedang menelfon mama Indra. “Bang Ridho, Tante Sita kapan kesini?” Tanya Etha tiba-tiba, “Eh Etha, nanti malem mungkin sudah dateng Ta, nanti malem temani Bang Ridho ngomong sama Mama papa ya dirumah Iin?” pinta Bang Ridho. “Iya Bang, aku mau nemenin Bang Ridho nanti malem, Bang Ridho ngomongnya pelan-pelan ya” Jawab Etha. Malam harinya, Etha sudah siap menunggu kedatangan Oom dan Tante juga harus Satu jam kemudian terdengar ada mobil berhenti didepan rumah Indra. “Eh, Etha to ini, udah besar sekarang ya, gimana kabarnya? Baik?” sapa Tante Sita, “Iin mana? Kok gak nyambut Papa Mamnya? Dia tahu kan kalo kita dateng malam ini??” kata papa Indra. “In…. Iin, Papa dateng sayang, ini Papa bawakan makanan kesukaan kamu, In… Iin…” sambung papa Indra yang mencarinya sambil membawakan makanan kesukaannya. “Ta, Dho, Iin kemana? Kok Mama cari dikamar gak ada? Dia maen kemana? Mama pengen ketemu sama dia” pinta mama Indra. “Ma, Iin sekarang dirumah sakit, dia lagi sakit,” jawab Bang Ridho ragu. “Sakit apa Ta? Gak papa kan? Mama pengen ketemu sama dia malam ini juga, ayo anter Mama sama Papa ke rumah sakit.” Pinta mama Iin. “Ta, Iin sakit apa?” Tanya mama Iin. “Tante, Oom, Etha mau minta izin ngomong sama Oom danTante, tapi Etha minta maaf sebelumnya. Iin sakit kanker otak stadium akhir, dan menurut perkiraan medis usia Iin tinggal satu bulan lagi” jawab Etha sambil menangis. “Ya Tuhan cobaan apa ini? Aku tak sanggup bila ditinggal anak ku Tuhan, lebih baik aku yang Kau panggil Tuhan, jangan Iin Tuhan” keluh Mama Iin. “Tante, kita semua sayang sama Iin, tapi Tuhan lebih sayang sama Iin.” Kata Etha sembari membukakan pintu mobil untuk Mama Iin.*** “Iin, Mama sayang sama Iin, Iin cepat sembuh ya. Mama kangen sama Iin.” Kata pertama yang mama ucapkan sembari memeluk Iin. “Mama, kapan kesini? Kok Iin gak tau? Oh… iya Ta, aku sakit apa ya? Kok dari tadi aku gak nanya? A…duh, kepala ku sakit lagi, sebenarnya aku sakit apa Ta?” Tanya Indra sambil memegang kepala Iin. “Iin gak sakit apa-apa kok, Iin Cuma pusing aja, kebanyakan mikir to Iin? Kata dokter, Iin gak boleh mikir yang macem-macem,” jawab Etha, setelah semua diam dan saling melirik satu sama lain. “Oh, tapi kenapa pada liat Iin kayak gitu? Kayak udah gak bisa ketemu Iin aja, Iin gak kemana-kemana kok, Iin akan terus dihati Mama Papa, dihati Bang Ridho, dan dihati sahabat Iin semuanya, termasuk dihati Gadis. Pasti kalian kangen ya sama Iin? Ah biasa, Iin kan emang ngangenin, terutama Etha, Etha pasti kangen banget sama Iin, Iya to?? Hayoo ngaku, tu mukanya merah, he,,, he,,,” kata Iin ysng berniat melucu, “Zha, aku mau jadi artis ya, kok pake di rekam segala? Wah bagi fans-fans ku, minta tanda tangan ku sekarang aja, kalo besok aku sibuk, he… he…” lucon Iin membuat semua orang tersenyum. Mereka menunggu Indra sampai indra tertidur. Pagi harinya, Etha menengok kekamar Iin, dia menagisi keadaan Indra saat ini yang membuatnya iba. Tiba-tiba Zha datang, buru-buru Etha menyembunyikan buku diarynya dibalik badan Indra. “Kenapa Ta?” Tanya Zha “Gak papa, kenapa Zha?” Tanya Etha. “Aku baru aja telpon Gadis, aku kasih tahu semua yang terjadi sama Iin, tapi Gadis masih acuh tak acuh sama keadaan Iin sekarang“Gadis, jangam tinggalin aku sendiri, aku sayang sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu, aku akan nunggu kamu sampai aku gak bisa lagi nunggu kamu lagi. Selama aku masih bisa berdiri, aku akan berdiri menunggu mu. Kembali pada ku gadis….” Suara igauan Iin membuat Zha dan Etha ingin menemui Gagis dan mengatakan semuanya. Dua minggu kemudian Gadis pulang dari Paris. Dan ketika ditemui, Gadis lebih memilih pergi dengan Thomas daripada cerita sahabatnya tentang Iin. Mereka kembali kerumah sakit, dan keadaan Iin juga semakin memburuk. Berbagai cara telah dilakukan oleh tim medis. Hingga pada suatu malam Indra terbangun dan melihat Etha tertidur disamping Iin dan melihat buku diary Etha terbuka. Perlahan buku itu ditarik dan Indra membaca semua tulisan Etha. Dari buku itulah Indra tahu penyakit apa yang sedang bersarang ditubuhnya. Ternyata KANKER OTAK STADIUM IV telah membuatnya terbaring lemah di ruangan itu. Dan satu rahasia lagi, Etha ternyata sayang sama Indra. Tiba-tiba etha terbangun dan melihat Indra sedang membaca diarynya. “Ehm… kamu bangun malem-malem ginin ngapain In?? itu diary ku ya?” Tanya Etha. “Eh iya, aku gak bisa tidur Ta, aku takut kalo Tuhan ambil nyawaku dan aku gak bisa bahagiani kamu, selama ini kamu udah bikin aku bahagia, karena kamu udah ngenalin Gadis buat aku. Kamu udah mau jadi sahabat ku sampe sekarang, sampe Tuhan Cabut nyawa ku. Sebelum aku mati nanti aku pengen buat kamu bahagia Ta, aku pengen mbales semua kebaikan mu selama ini.” Kata Indra. “ Itu udah jadi kewajiban ku sebagai sahabat mu kan? Semua juga perhatian kok sama kamu, aku udah bahagia bisa lihat senyummu, meskipun itu nmembuatku semakin sayang sama kamu. Maaf aku udah salah sayang sama kamu.” Jawab Etha. “Pokoknya aku pengen buat kamu bahagia sebelum ajal menjemput ku.” Jawab Indra ngotot. “In, yang harusnya bahagia tu kamu, aku pengen buat kamu bahahgia.” Kata Etha nahan tangis. “ Aku gak mau sahabat ku nangis karna takut kehilangan aku.” Kata Indra sambil mengusap air mata Etha.“Besok adalah operasi kam yang terakhir, kalo kamu mau bikin kita bahagia, kamu harus berjuang untuk hinup. Demi kita In.” Pagi itu menjadi hari penentu buat Indra. Sebelum Indra masuk ruang operasi, Indra minta maaf dan minta doa. Semua dibuat panik. Akhirnya operasi selesai. Dan Tuhan merencanakan lain. Indra telah tiada.“Indra….” Teriak Mama Indra Histeris. Keesokan harinya, jenazah Indra dimakamkan. Tangis kehilangan Indra masih terdengar mengantar Indra.Tiba-tiba dari kejauhan Gadis berlarian menuju pemakaman Indra. “In, maafin aku. Aku salah sama kamu. In bangun In, aku dateng In. bangun In…” ratap Gadis dipemakaman Indra. “In, mulai sekarang aku janji, siapapun jodoh ku nanti, aku akan setia menemaninya sampai ajal memisahkan kita, aku janji In, aku janji… maafin aku.” Gadis kembali menangis. Semua orang telah melah meninggalkan pemakaman kecuali Zha, Etha dan Gadis. Di tempat itu mereka berjanji akan jadi sahabat yang baik.Kini tinggal kenangan yang menyertai langkah sahabat-sahabatnya. Mereka hanya bisa berkata… <<<………………“SELAMAT TINGGAL SAHABAT”………………-->>>
READ MORE - SELAMAT TINGGAL SAHABAT…!!!

Masukkan email untuk update:

Delivered by FeedBurner

DoDoT_KeCiL_MaSiH_YaNg_DuLu