WeLcOmE CoMrAdE
Save The World Today
____Enjoy Your Live Today *BECAUSE* Yesterday Had Gone And Tomorrow May Never Come____
continue like this article, although the road is full of obstacles and temptations

Stupid Boys

| Jumat, 18 Mei 2012 | 0 komentar |
Bodoh..,
Kata-kata yang menyebalkan..,
Tapi penuh makna dan arti..,

Bodoh..,
Itu hinaan..,
Cacian..!!
Makian..!!

Bodoh..,
Ya, akulah orang bodoh tersebut..,
Lalu kenapa..??
Faktanya aku hidup dengan mencoba..??
Orang pintar, harus belajar..??
Aku bodoh, makanya belajar..,

Bodoh..,
Salahkah bila aku bodoh..??
Kuusahakan yang terbaik..,
Namun tiada hasil..??

Bodoh..,
Kebodohan ini..,
Tiada ampun baginya..,
Membuatku dihina, dicaci, dimaki..,

Bodoh..,
Bosan aku mendengar kata ini..,
  Bodon jika memikirkan hal yang bodoh..,

Akulah si bodoh..,
Bukan si bodoh biasa..,
Tapi si bodoh yang berusaha..!!
Untuk menunjukkan perkembangan..,
Dari diri si bodoh ini..,
Akan ada keajaiban,....




Bojonegoro, 18 Mei 2012
posted & edited HaNz UkhitaShiwa
READ MORE - Stupid Boys

Loteng dan Bulan Purnama

| Minggu, 06 Mei 2012 | 0 komentar |
Bulan saat ini bersinar dengan terangnya di atas sana..,
Mungkin saat ini kamu juga melihatnya..,
Atau mungkin kamu sudah tertidur pulas dengan selimut hangatmu..,

Beribu bintang diangkasa hanya bisa kulihat..,
Seandainya bisa kupetik..,
Pasti akan kuberikan padamu..,

Ahh..,
Tapi itu hanyalah mimpi belaka..,
Kamu sekarang sudah tak lagi seperti dulu..,

Berubah 180º..,
Tanpa mau menghiraukan ku lagi..,
Tak mau melihat ku meskipun aku terjatuh didepanmu..,

Meskipun begitu..,
Aku hanya mau kamu bisa bahagia..,
Walaupun itu luka bagiku..,

Yaa..,
Next time, Next life or Next yang lain..,
Mungkin kita akan bertemu lagi..,

Ahh..,
Aku merasa semua ini hanya akan membuatku menjadi lebih tegar..,
Meskipun jadi hancur berkeping-keping seperti tepung..,

Yang pasti aku akan tetap..,
Tetap menatap sang bulan purnama..,
Karna hanya itu saja yang tersisa dari mu..,



Jakarta, 06 Mei 2012
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/
READ MORE - Loteng dan Bulan Purnama

Kasih Itu...

| Kamis, 26 April 2012 | 0 komentar |
Kasih itu indah..,

Kasih itu tidak cemburu..,

Kasih itu menerima apa adanya dan memberi apa adanya..,

Kasih itu komitmen sehingga seseorang yang mempunyai kasih tak akan melupakan cintanya..,

Kasih itu murah hati bukan murah cinta..,

Kasih itu rendah hati bukan merendahkan cinta..,

Kasih itu mengampuni dan memaafkan..,

Kasih itu adalah cinta sejati karena berasal dari Tuhan..,




Jakarta, 26 April 2012
READ MORE - Kasih Itu...

Bulan

| Sabtu, 07 April 2012 | 0 komentar |
di bawah bulan purnama ini..,
aku selalu menunggumu..,
mungkin dulu aku memang yang salah..,
telah mengabaikanmu..,

hingga membuatmu terluka..,
semua harapan tinggal kenangan..,
saat ini hanya bulanlah yang menjadi saksi..,
karna sebenarnya aku masih menyanyangimu sepenuh hati..,

kini hatimu beku untukku..,
aku yang bodoh..,
yang sudah melukaimu..,
di bawah sinar benerang bulan..,

aku hanya bisa terduduk terpaku..,
memandangi sinar bulan..,
berharap engkau muncul padaku..,
karna aku masih mengharapmu..,


Jakarta, 07 April 2012
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/
READ MORE - Bulan

Hati-hati Bawa Hati

| Kamis, 08 Maret 2012 | 0 komentar |
Aduh..,
Susahnya punya hati..,
Letaknya yang tersembunyi..,
Tapi gerakannya tampak sekali..,
[hemhh, malu juga diri ini..]

Makanya..,
Lebih baik punya istri/pacar..,
Kalau tersenyum ada yang menanggapi..,
Kalau berexpresi ada yang memahami..,
Sikapnya yang lembut tak bikin keki..,
Dan terkadang ia malah yang memuji..,
"Tuhan tak pernah ingkar janji, kalau kita bisa menjaga diri kita akan mendapat pendamping yang lurus dan sehati."

Tapi kalau masih sendiri..,
Hati-hati bawa Hati..,
Kalau sibuk mencari perhatian..,
Kapan kamu/kita/kalian mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan..??
Lebih bagusnya sibuklah untuk menyiapkan perbekalan..,
[maunya sihh kutulis memperbaiki iman..]
Saat-saat tak terbayangkan..,

Adapun kalau sudah beristri/berpasangan..,
Jangan lupa mengingatkan..,
Kalau ada yang dilalaikan..,
Tentang perkara yang disyari'atkan..,
Tapi kalau ia memelihara kewajiban..,
Ingat-ingatlah untuk memberi perhatian..,
Jangan sampai menunggu dapat peringatan..,


Jakarta, 08 Maret 2012
READ MORE - Hati-hati Bawa Hati

LOST

| Senin, 13 Februari 2012 | 0 komentar |
Setan yang ada di tubuh ini benar² berpesta setelah berhasil memukulku hingga terjatuh.,

Bogem mentahnya yang keras, merobek topeng besi dan menghancurkan sebagian wajahku.,

Aku terjerembab, dengan seluruh tulang terasa hancur dan sendi²ku terasa bergeser dari tempatnya.,

Dadaku terasa remuk, karena hantaman besi panas membara.,

Aku terengah parau.,

Entah seperti apa bentuk ragaku kini.,

Hanya perih yang aku rasasakan sangat luar biasa.,

Aku meludah, asin dan panas rasanya.,

Pedangku entah kemana terjatuhnya.,

Mataku nanar, menatap nafasku tersengal.,

Diatas, terlihat asap hitam membayang, langit hitam menurunkan bunga api halilintar.,

Pasukanku mundur teratur setelah sebagian meregang nyawa di medan tanpa perhitungan ini.,

Aku terkejut, saat mendengar dentumang langkah yang tiba² saja mendekati ku.,

Sosok bengisnya yang berarimakan kematian, menyeruak.,

Lalu diinjaknya leher ku hingga separuh mulutku.,

Wajah buruk rupanya mendekat, ia menyeringai.,

Aku tersedak darahku sendiri di kerongkongan.,

Aku hanya bisa melotot memandangnya, ia membusungkan dada dan mengepalkan tangan yang merah berlumuran darah ke udara.,

Hiruk pikuk pasukannya membahana.,

Sekali lagi, ia merunduk lalu menjambak rambut panjangku.,

Aku terasa terangkat dari tanah dengan sakit yang luar biasa.,

Sesaat dalam sekarat, aku merasa terhempas ke tempat paling jauh, gelap, hitam dan hanya bau busuk serta rintihan abadi yang terasa menyanyat telinga.,

Sayup² jauh separuh telingaku yang hancur menangkap gemuruh sorak dan tawa kemenangan dari kejauhan.,

Lalu senyap..,




Cikarang, 13 Februari 2012
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/
READ MORE - LOST

Sebuah Janji

| Rabu, 18 Januari 2012 | 0 komentar |
Mungkin sakit yang engkau rasakan kini..
Tak seperti apa yang ada dalam rasa hatimu..
Seperti mentari yang hanya bersinar ketika bulan beranjak pergi..
Percaya atau tidak percaya..

Dulu pernah kau ingin mejadi malaikat kecilku..
Tapi kini tak ada lagi inginmu..
Hanya sakit yang ku rasakan saat ini..
Janjimu yang selalu ku ingat dikala itu..

Hanya bisa merubahku menjadi kebencian..
Pergi saja dari ku dan lupakan semua tentangku..
Buang semua ingatan tentangku..
Jangan pernah kau kembali lagi..

Karna semua telah berubah tak seperti dulu lagi..
Percuma semua ini..
Karna kau kembali hanya akan mengundang semua perihku kini..
Pergilah pergi dan jangan pernah kembali lagi..

Terima kasih untuk semua luka yang telah engkau buat..
Sekarang aku ingin sendiri disini..
Berharap merubah semua yang ada..
Untuk menjadi lebih baik lgi..


Cikarang, 18 Januari 2012
READ MORE - Sebuah Janji

so far away

| Rabu, 11 Januari 2012 | 0 komentar |
again very.., very.., wrong mistake I did, why I could never examined such that ..

error after error I always do but all I can not
undeniable ..

my accuracy is less I admit it ..

cornered me at an all-black corner ..

to me no longer speak or made ​​a sound ..

all just blame one by one they were accusing me of blasphemy and resentment in me makes me like the buffalo that did not know anything ..

a regret was up to me to make me feel like standing on a spear ready to stab me if I slip from the bottom ..

I can only hear and feel what I regret ..

feel small and helpless ..

feel isolated in a valley far away from civilization ..

would be a mistake to feel guilty that I do ..

only silence and lament their frustration ..

like falling when you want to get up ..

all I feel, and like no end to be happy ..

whether later, tomorrow or the day after ..

definitely will be a lecture that was very.., very.., sick if you listen ..

and while it will always look forward to even though it hurts me ..


Cikarang, 11 Januari 2012
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/
READ MORE - so far away

Antara Kanan dan Kiri

| Senin, 26 Desember 2011 | 0 komentar |
"Aduhh.., bagaimana ini Nan..??"

"Bagaimana apanya Ri..??"

"Hemmhh.., kamu ini Nan..!! Kalau diajak ngomong tu ngaa pernah nyambung blabar pisan, atau kamu pura-pura ngaa paham yaa..??"

"Bukan aku ngaa paham Ri, tapi kan aku udah bilang berkali-kali. Sabarr.., siapa tau nanti kita ada Rizki yang tak di duga-duga baru kita beli alat itu."

"Sabar..!! sabar.. itu kan ada batanya Nan, kan kamu sendiri yang pengen beli alat itu."

Hari demi hari siang dan malam, Otak Kanan dan Otak Kiri ku selalu berdebat, memepermasalahkan untuk membeli alat yang menurutnya sangat penting, yaitu Laptop. Otak Kanan yang memiliki sifat sabar, selalu di pengaruhi oleh Otak Kiri ku yang sifatnya bertolak belankang dengan Otak Kanan. Terkadang aku sampai pusing tujuh keliling, merasakan dan mendengar keributan mereka berdua, yang membuat konsentrasiku bubar. Namun, tidakku naifkan juga. Dengan ketidakadaan mereka berdua, jiwa ini akan terasa hampa dan sepi tanpanya. Hemmhh.. entahlah kawan, aku terkadang tak paham dengan mereka. Tuhh.., kan mereka mulai ribut lagi..!! 

"Ahaa..!!" Otak Kiri pekik si Kiri, pertanda dia memiliki sesuatu ide.

"Apaan Ri, bikin kaget orang saja..!!" gerutu Kanan pada kembarannya.

"He..he.., Nan..!! aku ada ide hebat, dijamin kamu pasti bakalan setuju..!!" ucap Kiri penuh dengan semangat. Kanan sedang tiduran santai dibuatnya kaget oleh Kiri, ia pun bangun karena penasaran akan ide Kiri.

"Emang apaan..!! cepetan kasih tau aku..!!?" Kanan menjadi penasaran dengan ide Kiri saat ini.

"Tapi, kamu harus janji.!! kali ini harus setuju ngaa pke nawarr..!!" dengan santai Kiri membuat kesepakatan.

"Wahh, kalau aku disuruh janji dengan hal yang belum jelas, sorry aja Ri. Aku pasti ngaa mau..!! Tapi kalau disuruh mempertimbangkannya itu sudah pasti..!!" pekik Kanan.

"Ok..Ok.. aku paham Nan..!! Hemhh..,!!" Kiri mengusap jidat. Kanan pun semakin penasaran akan ide Kiri.

"Kamu inget ngaa sama Negro yang waktu itu ngejar-ngejar kita..??" Tanya Kiri pada Kanan.

"Gubraakkk..,!! (Kanan terjatuh seprti gaya film doraemon, ketika mendengar pertanyaan Kiri) Ngapain juga di inget-inget, emangnya apa hubungannya dia sama Laptop yang mau kita beli Ri..??"

"Yahh.., kamu ini Nan, culun banget jadi orang..!! Yaa, pastinya dia ada gunanya buat rencana kita." jawab Kiri dengan semangat.

"Mau tau caranya..??" tanya Kiri pada Kanan yang dikatainya culun, Kanan pun hanya mengangguka mengiyakan.

"Begini Nan..!! gimana kalau kamu pura-pura terima cintanya, pasti semua bakalan beres..!!" jawab Kiri dengan entengnya. Kanan pun langsung melotot bagaikan tersambar petirr ketika mendengar perkataan santai saudaranya, yang seolah-olah tanpa dosa sedikitpun.

"Tidaaaakkkkk....!!!" pekik Kanan, sampai Kiri terjengkang kebelakang, tak di sangka ternyata Kanan kalau sudah teriak bisa membuat gempa. Kiri pun tak habis akal, dia merayu terus Kanan saudaranya.

"Kamu gimana sih Nan, katanya mau beli Laptop..!! tapi kok malah sewot gituu..!!" tanya Kiri.

"Gimana ngaa sewot.., ide kamu itu selalu buat aku gila bin ngacoo Ri..!! jawabnya sambil melengos.

"Iyaa sih Nan, tapikan kalau kita nunggu Rizki jatuh yang ngaa tau kapan jatuhnya. Lagi pula inikan cuma pura-pura nerima cinta dia doank. Yang penting ngaa beneran to.., gitu aja kok repott. Lagi pula dia juga bilang kalau kita mau jadi pacarnya, dia bakalan mau beliin apa aja yang kita mau Nan." kembali rayuan Kiri terdengar ditelinga Kanan.

"Itu sih namanya pengeretan Ri, lagian kamu tau aku kan ngaa suka berbuat seperti itu. Dosa tau..!!!" Kata Kanan.

"Alaaaahh..!! persetan dengan Dosa, Nan..!! Tohh bukan kita saja yang berbuat seperti itukan. Tuhh, si Lina..!! Kamu taukan cewek yang didepan Flat rumah kita. Tau ngaa kamu Nan..!! dia sekarang lagi pacaran sama si Bule yang udeh punya cucu 3 (tiga). Dia Ok-Ok aja tuhh, ngaa kayak kamu yang kebanyakan mikir Dosalah.. ngaa enak lahh..de el el. Tapi liat aja tu si Lina, dia dengan enjoynya punya gebetan Bule bahkan terlihat bahagia banget. Coba kalau kamu punya perasaan kayak dia, kan Laptop gampang kamu dapatkan tanpa harus susah payah, ya too..!!" ucap Kiri dengan santainya.

Mendengar perkataan saudaranya itu, Kanan kembali muntab. Dia terasa tiduran diatas penggorengan yang lengkap dengan minyak yang sudah mendidih karena dipanaskan.

"Ehh, Ri..!! dia yaa dia.., bukan aku mereka atau kalian. Aku ngaa akan bisa disamakan dengan dia. Kalau dia mau begitu sih urusan dia Ri, bukan urusanku..!! Yang pasti aku ngaa akan terima kamu sama-samakan dengan dia Titik ngaa pke Koma..!!" jawab Kanan dengan muka muram.

"Kamu inget ngaa nasihat orang tua kita..?? mereka menginginkan kita hidup tanpa harus bergantung pada orang lain, apa lagi morotin anak orang. Ngaa baik tauu..!! bisa-bisa kuwalat ntar kamu. Karma itu bisa terjadi pada kita kapan saja dan dimana saja Ri. Kamu mau, karma itu nanti bakalan terjadi pada anak cucu kita kelak..?? Ngaa kaan Rii..??! Istigfar kamu Rii.., dia itu juga kuli kayak kita gini, masa kamu mau morotin dia juga. Kalau aku sihh no way..!!!" sungut Kanan sambil mengelus dadanya. Ia mencoba meredam getaran hebat di dalamnya.

"Aaaarrgghhh... sudah.., sudahh..!! kalau ngaa mau denger ideku, bilang donk dari tadi. Tau gitu ngaa usah ngomong aku ke kamu, pakai acara di kuliahin segala lagi..!!" dengus Kiri dengan kesalnya.

"Bukan begitu, kamu itu musti tau aku pengen Laptop ku itu yang Made in Halal Ri, bukan cap Haram..!!" jawab kanan lembut.

Saat Kiri mendengar ucapan Kanan barusan, Kiri hanya tertawa terbahak-bahak.

"Memangnya orang tau gituan Nan, yang mereka tau itu merk Laptop itu kayak Toshiba, Sony atau Acer..!!" ledek Kiri.

Kanan hanya mampu menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala. Lelah menerangkan pada saudaranya yang tak mampu mencerna jalan pikiran Kanan. Dia diam dan malas bicara.

"Kenapa diam Nan, bukankah kamu pernah bilang kalau kamu pengen banget jadi penulis terkenal seperti Pak Habbiburrahman, Pak Taufiqurrahman, atau Mbak Asma Nadia?? Kalau kamu belum punya Laptop, gimana mau jadi seorang penulis Nan. Apa lagi sekarang ini kan jaman udah modern, penerbit buku juga ngaa akan menerima Cerita atau Novel dalam bentuk tulisan tangan. Tapi kalau kamu ngaa percaya, yaa sudahh..!! Kirim aja Cerpen sama Novel kamu ke penerbit dalam bentuk tulisan tangan, jangan harap tulisan kamu akan dibaca. Mungkin dilirik aja ngaa, apa lagi berharap akan diterbitkan jadi best seller lagi. Ahahaha.. jangan mimpi deh Nan..!! Aku ulangi lagi yaahh.. jangaan mimpiii....!!" ucap Kiri dengan sinisnya.

"Lhoo, kamu koq bilang gitu Ri..?? tega-teganya kamu mematahkan semangat saudaramu sendiri..!!" kata Kanan. Semangatnya pun memudar ketika mendengar sindiran dari saudaranya tadi.

"Yaa, semua itu terserah sama kamu Nan. Aku sebagai saudara kamu yang jelas ingin melihat kalau kita bisa berhasil, lebih cepat punya Laptop kan lebih baik. Jangan suka menunda-nunda, nanti kesempatan bisa digaet sama orang lain." kata Kiri.

"Iya,.. aku tau itu Ri, tapi kan ada cara yang lebih baik setidaknya. Bukan cara yang seperti ini, ya maaf aja kalau aku ngaa bisa." kembali Kanan menolak. Kiri pun mendengus kesal pada Kanan.

"Enak ya..!! mereka-mereka yang bisa melakukannya. Bisa dapat apa yang mereka mau, Rumah, Mobil, dan terkadang uang pun berlimpah. Fiuhh.., coba kalau saudaraku ini juga mau kayak mereka, pasti aku juga akan ikut kaya deh." kata Kiri sambil tersenyum sinis, menyindir Kanan.

"Yaa Allah Ri, Istigfar kamu. Apa kamu ngaa takut sama Dosa..?? Bukankah apa yang kita perbuat ada yang mencatat baik dan buruk kelakuan kita, semua akan ada balasannya Ri. Sudahlah aku sudah ngaa mau berdebat lagi, aku sudah lelah, aku mau tidur saja." ucap Kanan sambil menyelimuti tubuhnya.

"Ehh..ehhh.., tunggu dulu Nan, masa gitu aja ngambek..??" ucap Kiri, dia takut kalau saudaranya marah.

"Apa lagi sih Ri, aku ini bener-bener capek mau istirahat..!!" jawab Kanan.

"Emm.. kalau gitu..!!" Kiri pun menggigit bibirnya sesaat. Dia ragu-ragu untuk mengucapkan idenya yang lain. Dia tau kalau saudaranya terlalu lurus dan jujur jalan pikirannya.

"Nan..!! Teriak Kiri, Kanan yang sudah mulaiterpejam matanya mendadak kaget dibuatnya.

"Apa lagiiii Rii...???!" desah Kanan.

"Nahh..!! dari pada bingung mikir beli Laptop ngaa ada duit, kenapa ngaa minta aja sama orang yang lagi baca cerita kita ini..?? hehehehe.." Kata Kiri sambil tertawa kecil.

"Gubraaaakkkk...!!!" lagi-lagi Kanan ngejengkang kaya gaya di film doraemon.

"Nan...!!!" pekik Kiri.

"Yahh... paraahhh..!!!! gue dicuekin lagi nihh..!!" kata Kiri.

"Gagal lagi dahh acara beli Laptopnya..!!" denges Kiri, ada perasaan marah dan salut dalam dadanya. Perlahan ia amati wajah tenang saudaranya, ia lihat ada secercah kelembutan marasuki Qolbu meskipun ia merasa kalah. Namun ia merasa bangga memiliki saudara yang pemikirannya lurus seperti kanan.

Nah, kira-kira ada yang mau belikan Laptop.. ahahahahaaa....


Jakarta,26 Desember 2011
READ MORE - Antara Kanan dan Kiri

Penyesalan Untuk Pilihan

| Rabu, 21 Desember 2011 | 5 komentar |
"Bundaaaa.., Bundaaa.., jangan pergi Bundd.., tunggu Tya..!!" teriak Tya saat terbangun dari tidurnya.

Tersentak kaget, Tya pun tersadar dari mimpinya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Dalam beberapa hari belakangan hari ini wajah Almh Bundanya sering muncul dalam mimpi Tya.

"Fughhtt!! hmm.., ternyata hanya mimpi." pikir Tya dalam hati.

Keringat terlihat membasahi kening Tya, dia hanya termenung terlihat ada kesedihan yang mendalam sejak Tya di tinggalkan oleh Bunda tercintanya beberapa tahun yang lalu. Setelah Bundanya meninggal, kehidupan Tya dan Ayahnya berubah drastis. Ayahnya menjadi pengangguran dan sering mabuk-mabukan setelah tempat kerjanya bangkrut, Ayahnya sekarang menjadi orang yang pemarah. Sering kali terdengan Tya dan Ayahnya bertengkar, Tya memang akan tunggal dalam keluarganya. Terlhatlah betapa sepinya kehidupan Tya setelah kepergian Bundanya.

"Bundaa.., kenapa harus tinggalin Tya sendirian..??! Tya kangen banget sama Bunda, Tya ingin sekali ketemu sama Bunda..!!" pikir Tya dalam hati.

(Air matanya tampak membasahi pipinya.)

"Hikss..hiks.., kenapa Bunda begitu cepat ninggalin Tya sendirian..??!"

Tya kembali termenung, pikirannya sangat kacau malam ini. Karena hampir setiap hari selalu bertengkar dengan Ayahnya, akibat kebiasaan baru Ayahnya yang menjadi pemabuk dan pejudi itu.

(Sesaat kemudian ia pun membaringkan tubuhnya kembali ketempat tidur.)

"Besok aku ada janji dengan Faris, aku harus cepat-cepat tidur dan bangun pagi-pagi. Semoga saja besok akan ada kabar gembira buatku." pikir Tya dengan penuh harap.

Tanganya kemudian menyapu airmata yang tersisa dipipinya, sesaat kemudian Tya pun tertidur pulas kembali. Meskipun masih menerawang jauh di antara kegelapan malam.

(Ke esokan harinya.)

"Dukk..dukk..dukk.." suara keras dari balik pintu kamar Tya terdengar keras hingga membuatnya terbangun. Dibalik jendela terlihat sinar matahari yang sudah muncil. Tya lalu mengusap matanya yang terlihat masih mengantuk. Sesaat kemudian terdengar lagi suara gedoran pintu dan diikuti suara yang kasar.

"Dukk..dukk..dukk.. Tya buka pintunya..!! Ayah mau bicara sama kamu..!!" bentak Ayahnya dibalik pintu kamar Tya.

"Cepat bukakan pintunya..!! atau Ayah dobrak pintu kamarmu..!!" kata Ayahnya yang sudah mulai mengeluarkan kata ancaman padanya. Tya pun segera membenahi pakaiannya. Sebelum membukakan pintu, Tya menarik nafas panjang dalam-dalam supaya pikirannya agak tenang.

Beberapa saat kemudian pintu kamar itu terbuka. Dari balik pintu terlihat wajah Ayahnya yang tampak marah sekali. Nafasnya mengendus-endus tanda emosinya sudah memuncak.

"Kamu sengaja yaa tidak membukakan pintu kamar mu..!! Kamu mau melawan Ayah, Haaaahh..!!" bentak Ayahnya sambil mengangkat tangan kanannya.

"Tampar saja Yah..!! Tya sudah siap kok. Kalau Ayah masih belum puas dengan tamparan yang semalam." jawab Tya dengan lantang. Matanya dengan tajam menatap Ayahnya yang kian emosinya memuncak ketika mendengar jawaban dari Tya.

"Ayah butuh uang buat beli minuman lagi..!!" bentak Ayahnya sembari menurunkan tanganya yang terangkat.

"Tya sudah ngaa punya uang lagi Yah. Lagian kan kemarin-kemarin uang baru saja Tya kasih ke Ayah." jawab Tya sedikit menahan emosinya karena sudah capek bertengkar dengan Ayahnya.

"Udahh habiss..!" jawab Ayahnya singkat.

"Jangan bohong kamu..!! Cepetaaannnn..!!! Manaa Uangnyaa..!!" bentak Ayahnya yang sudah tidak sabar lagi.

"Beneran ngaa ada Yah..!! Periksa saja dompet dan kamar Tya kalau Ayah ngaa percaya..!!" sambil tangan Tya memepersilahkan Ayahnya untuk memeriksa kamar Tya.

Ayahnyapun mendorong tubuh Tya dan masuk ke dalam kamarnya. Segala benda yang di temukan dilempar-lemparnya begitu saja. Dalam sekejap kamar itupun berubah menjadi berantkan tak karuan. Tya hanya terdiam melihat tingkah laku Ayahnya itu. Tya mencoba untuk menahan airmatanya yang mulai keluar. Hatinya terasa sakit sekali saat melihat Ayahnya yang tak seperti dulu lagi.

"Mana dompetmu..!!" bentap Ayahnya dengan nada kesal.

"Itu ada di atas meja..!!" jawab Tya singkat.

Ayahnya pun beranjak dai tempat tidur dan menuju ke arah meja yang di tunjuk oleh Tya. Di ambilnya dompet itu, semua isinya dia keluarkan. Didalamnya hanya ditemukan selembar uang 20ribu saja.

"Cuma segini aja..!! jangan bohong kamuu..!! mana yang lainya, berikan sama Ayah..!! dengan nada ancaman ke Tya.

(Tya hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata sepatah kata pun.)

"Awass yaa..!! kalau Ayah temukan selain ini tau rasa kamu nanti..!!" jawabnya singkat sambil matanya terus memperhatikan seluruh isi kamar Tya.

Tak berapa lama kemudian Ayahnya pun pergi meninggalkan Tya begitu saja. Seketika itu pun airmata Tya mengalir dengan derasnya membasahi kedua pipinya. Tubuhnya terasa lemas dan akhirnya terjatuh. Tya terduduk bersandarkan titian ditempat tidur, dengan pikiran yang kacau.

"Bundaaa..., sampai kapan harus seperti ini terus..?? Tya udah ngaa tahan lagi Bundaa..!!" kata Tya dengan suara suraunya. Tapi hanya angin sepilah yang terhembus menghampirinya.

(Beberapa saat kemudian Tya pergi ke sebuah taman..)

Suasana taman siang ini kelihatan sepi sekali. Padahal hari ini adalah hari minggi, tidak seperti biasanya.

"Ahh.., mungkin karena cuaca mendung kali yaa..?? Jadi sepi kayak gini..!!" pikir Tya yang duduk diantara bangku-bangku taman.

Matanya menatap kesana kemari, tampaknya dia menunggu seseorang. Kebetulan siang ini Tya sudah janjian dengan pacarnya Faris di taman ini. Tanpa sadar Tya pun melamun panjang. Entah apa yang dipikirkannya, hanya dia yang tahu, dan..!!

"Heyy.., melamun aja.." diikuti dengan terkejutnya Tya yang tersadar dari lamunannya.

"Kamu bikin kaget saja Ris.., kemana saja kamu baru muncul jam segini..!!" tanya Tya pada Faris.

"Soirr, tadi ada urusan kantor sebentar.., oyaa.. kamu sudah makan atau belum sayang..?? tanya Faris sambil mengalihkan pembicaraan. Wajahnya terlihat serius sesekali, terkadang tersenyum pada Tya.

"Ngaa, aku ngaa lapar kok..!!" jawab Tya dengan suara berat. Wajahnya menunjukkan suasana yang sedang mengalami permasalahan yang amat sangat berat.

Tiba-tiba tangan Faris memegang tangan Tya. Dipegangnya erat-erat tangan yang mungil dan lembut itu.

"Kamu pasti habis bertengkar lagi dengan Ayahmu yaa..?? Kamu yang sabar yaa.., mungkin Tuhan sedang memberikan ujian buat kamu.., dan pada akhirnya nanti Dia akan memberikan hikmah yang terbaik buak kamu sayang..!" wajah Tya hanya tertunduk mendengar nasehat Faris, tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Faris terus menatap Tya dengan penuh senyum, berharap kekasihnya menemukan kembali semangatnya yang hampir habis itu.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua hanya bisa terdiam. Lalu Faris mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah amplop berwarna coklat, dan di sodorkannya kepada Tya.

"Nih ambil.., pasti kamu sangat membutuhkannya..??" kata Faris sambil tersenyum. Tya hanya tertegun melihatnya, lalu diterimanya amplop itu dengan kedua tangannya.

"Maafkan aku yaa sayang, aku sudah banyak merepotkanmu.., aku janji kok, kalau nanti aku sudah punya uang pasti akan aku ganti..!!" jawab Tya di iringi dengan anggukan Faris.

"Sudahh, jangan dipikirkan cara bayarnya.., kapan-kapan aja ngaa apa-apa kok, lagian aku juga ikhlas ngasihnya ke kamu sayang."

Terlihat binar matanya memandang wajah Faris dengan pekat. Senyum dan kesedihan menjadi satu dalam diri Tya. Disatu sisi ia merasa tak enak hati karena telah merepotkan kekashnya itu, akan tetapi disisi lain ia tak punya pilihan lain lagi.

"Heyy.., kenapa kamu diam..!!" tangan Faris memeluk pundak Tya dan matanya memandang Tya penuh senyum.

"Sekali lagi terimakasih yaa sayang. Aku janji kalau sudah punya uang akan aku ganti uang kamu..!!"

Setalh itu kedua insan manusia yang sedang dimabuk asmara itu hanya terdiam membisu menemani awan yang kian gelap, dan haripun semakin sore. mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.

"Dari mana saja kamu..!!" wajahnya tampak penuh amarah memandang Tya.

Tya hanya menoleh sebentar lalu tampak acuh membiarkan begitu saja sesosok pria separuh baya yang bertanya kepadanya tadi, dan melangkah menuju kamarnya. Melihat tingkah laku Tya membuat amarahnya semakin memuncak dan dihampirinya anak semata wayangnya itu, lalu tiba-tiba..

"Awww.. sakit Ayah..!!" ditariknya rambut Tya yang panjang sebahu itu dengan kuat oleh Ayahnya.

Tya hanya bisa meringis menahan sakit. Lalu diambilnya dengan paksa tas Tya, wajahnya berubah gembira setelah menemukan sebuah amplop berisi uang pemberian Faris tadi. Dengan cepat Tya langsung menghampiri sang Ayah tercinta dan berusaha merebut amplop itu kembali. Tapi sebuah tamparanlah yang ia terima dari sang Ayah. Tya pun terjatuh, kan tetapi tanganya masih sempat meraih kaki sang Ayah untuk menahannya yang hendak pergi membawa amplop tadi.

"Jangan Ayah, itu Tya pinjam dari Faris..!!" pinta Tya sambil memegangi kaki sang Ayah.

"Perduli setan..!! mau dari Faris kek, dari siapa kek Ayah ngaa perduli..!!" jawab Ayah dengan lantang.

"Hahaha.. akhirnya malam ini aku bisa minum-minum sepuasnya..!!" kata sang Ayah.

"Ayah.., jangan di ambill yahh..!! itu buat kehidupan kita sehari-hari..!!" Tya memegang erat kaki Ayahnya dan memohon agar Ayahnya mengurungkan niatnya itu. Akan tetapi tanpa pikir panjang lalu didorongnya tubuh Tya hingga akhirnya ia tersungkur ke lantai.

"Kamu sama saja dengan Bunda mu itu, lebih baik kamu susul saja itu Bunda mu ke akherat..!!" dengan tertawa keras akhirnya ia pergi begitu saja meninggalkan Tya yang tersungkur dilantai. Akhirnya Tya pun menangis, ia tak bisa lagi menahan emosinya.

"Ayahh jahaaattt...!!" teriak Tya dengan sekuat tenaga diikuti keheningan malam yang datang.

Beberapa saat kemudian Tya meraih gagang telpon dan menelepon Faris, saat itu ia Faris akan beranjak tidur. Lalu segeralah diangkatnya telpon itu.

"Riss.., ini aku Tya..!!" jawab Tya dengan suara yang berat.

"Oohh kamu Tya.., tumben malam-malam kamu telpon..?? kamu kenapa Tya, ada masalah lagi dengan Ayah kamu yaa..?" tanya Faris.

"Ngaa kok Ris, aku baik-baik saja kamu ngaa usah khawatirkan aku..!!" jawab Tya, tapi dalam hati tetap saja Faris perduli dengan kekasihnya itu.

Hingga beberapa saat, keduanya terdiam dan akhirnya Tya kembali membuka pembicaraan.

"Riss.., terima kasih banyak yaa, karena selama ini aku punya masalah pasti kamu selalu support aku. Aku ngaa tau lagi harus ngomong apa lagi sama kamu selain kata-kata itu..!" jawab Tya yang sedari tadi meneteskan airmata.

"Kamu bicara apa sayang..??  Aku jujur ngaa mengerti maksut kamu..??" Faris mulai bertanya-tanya dalam hatinya.

"Ngaa kok, aku cuma pengen ngomong aja kekamu..!!" sambil menahan tangis dan kesedihan yang di alami saat ini.

Suara Tya tampak terbata-bata mengucapkan kata-kata yang membuat Faris menjadi heran akan sikap Tya. Suasana kembali hening sesaat keduanya terdiam tanpa ada sepatah katapun yang dikeluarkan.

"Riss, aku.. aku.. aku sayang banget sama kamu..!!" tiba-tiba telepon mereka langsung terputus begitu Faris mendengar kata sayang yang terucap dari mulut Tya.

Faris pun mencoba untuk menelepon balik tetapi tidak ada jawaban, tampaknya telepon Tya telah nonaktif. Faris jadi berpikir sendiri tentang Tya, rasa khawatir dan cemas seakan menghantui perasaannya.

"Riss.., maafkan aku yaa..!!" ucap Tya dalam hati saat menutup telepon itu.

***

Udara dingin mulai menyelimuti pagi ini, dari kejauhan tampa sesosok tubuh yang berjalan gontai menuju rumah Tya. Ternyata itu Ayah Tya yang sendari malam tidak pulang, tampaknya berjalan dalam keadaan mabuk berat. Dia berjalan memasuki rumah itu tanpa berkata apapun, mata sayunya berusaha menuju pintu kamar Tya.

"Dukk..,dukk..,duk.., Tya.., Tyaa.. buka pintunya..!!" seperti biasa kata-kata kasar sesekali keluar dari mulutnya, akan tetapi tidak ada jawaban dari dalam.

"Tyaa..!!! bukaaa pintunya..!!" suaranya mulai meninggi, emosinya mulai timbul dan didobraknya pintu itu hingga terbuka. Suasana kamar terlihat sangat gelap sekali.

"Tya.., dimana kamu..!! jangan sembunyi, cepat keluar..!!" teriak sang Ayah saat memasuki kamar Tya. Dan tiba-tiba.. raut wajahnya berubah seketika, sorot matanya tertuju pada sudut ruangan. Disitu terlihat sesosok tubuh yang tergeletak lemas hampir tak bernyawa. Ia mendekatinya dengan perlahan, dipandanginya sesosok tubuh itu yang ternyata adalah Tya putri satu-satunya. Seketika emosi yang tadinya memuncak, sekarang berubah, badannya terlihat gemetaran dan tak bisa bergerak sedikitpun.

"Tya.. Tya.. Tyaa..!!" katanya dengan terbata-bata, terduduk dan memegangi tangan Tya dan wajahnya, sambil meneteskan airmata.

"Tya.. Tyaa.. Bangun Tyaa..!! ini Ayahhh..!!" digerak-gerakkannya tubuh Tya, tapi tidak ada jawaban. Sekujur tubuh Tya bersimbah darah yang keluar dari lengan tangan kirinya yang sudah terpotong urat nadinya. Darah segarpun mengalir membasahi lantai kamar itu.

"Tyaa.. Tyaa.. Bangun Tyaa..!! jangan pergiii...!! pinta Ayahnya dengan suara bergetar.

"Arrgghhhh...!!" dipukulnya lantai kamar hingga beberapa kali sebagai tanda sebuah penyesalan yang sangat amat.

"Ayah yang salah Tya..!! Ayah yang salahh..!! seharusnyaa.. seharusnyaa...." sesalnya tanpa bisa menjelaskan lebih panjang. Dibenamkannya wajah ketubuh Tya, terdengar suara tangis tiada henti.

"Tyaa..!! Bangun sayanggg..!! jangan tinggalkan Ayah sendiriaaann..!!" tak habis-habisnya ia berkata tak karuan.

Tiba-tiba tangan Tya memegang Ayahnya, Ayah Tya tampak kaget begitu tahu bahwa ternyata tangan Tya membelai lembut rambutnya. Dilihatnya wajah Tya yang tengah sekarat itu terlihat tersenyum kepadanya, antara senang dan sedih yang bercampur menjadi satu, dibelainya wajah Tya.

"Ayahh.. Ayah ngaa salah kok..!!" terucap kata-kata surau dari mulut Tya, matanya hanya bisa memandangi wajah Ayahnya dengan tersenyu,.


"Tya.. Tyaa kangen sama Bunda, Ayah..!! Tya ingin ketemu sama Bunda..!!" jawab Tya dengan suara terbata-bata.

"Iyaa sayang.. Ayah yang salah.. semua karena salah Ayah...!!" kata Ayah Tya sambil terbata-bata.

"Ngaa.. Ayahh.. Ayahhh ngaa salah kok..!! jawab Tya dengan suara terbata-bata.

"Ayah adalah orang yang penuh tanggung jawab pada Bunda dan juga Tya..!! Tya mau Ayah Tya yang seperti dulu lagi..!!" kata Tya sambil terbata-bata.

"Ayah janji.. mulai hari ini Ayah akan berubahh..!! berubah demi putri kecilku..!!" dengan mata yang berbinar-binar sambil memegang erat tangan Tya.

"Iya.. iyaaa.. Tya percaya kok..!!" jawab Tya yang terlihat pucat.

"Iyaa.. Ayah janji..!! Ayah janji..!! kita akan memulai kehidupan dari awal lagi yaa sayang..!! Mulai besuk..!! Ayah akan cari kerja, buat menghidupi kebutuhan sehari-hari kita sayang..!!"

Tya hanya tersenyum mendengar perkataan dari sang Ayah. Sesekali airmatanya mengalir membasahi pipinya, Tya sangat bahagia melihat perubahan drastis Ayahnya itu. Ia seakan melihat sesosok pria yang ia kenal dulu sebelum Bundanya meninggal.

"Ayahh.. jaga diri Ayah baik-baik yaa..!!" seketika suara Tya berhenti, kesadarannya tiba-tiba menghilang, tangan yang sedari tadi memegang erat tangan Ayahnya pun lemas seketika.

"Tidaaaaaaa...kk.. bangun Tya.. banguuunn.. Tyaaaa.....!!" teriak sang Ayah tak karuan dengan meneteskan airmatanya.

***

"Hallooo Fariss.. Fariss.. ini aku Dinda..!!" jawab Dinda dengan tergesa-gesa.

"Ada apa Din..?? kok kelihatanya penting banget sampai pagi-pagi gini telpon aku..!!" jawab Faris dengan terheran-heran.

"Tya.. Tyaa Riss..!! Tyaaa..!!" hanya kata-kata itu yang terucap dari Dinda.

"Iya.. Tya kenapa Din..?? jawab yang jelas donk..!!" jawab Faris yang terlihat penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Tya.

"Tyaa.. Tya meninggal Riss..!! Tya meninggall..!!" jelas Dinda pada Faris.

Bagai petir yang menyambar tubuh Faris dipagi hari. Faris pun tak kuasa menahan airmatanya, tubuhnya langsung menjadi lemas saat mendengar kabar dari Dinda. Gagang telepon yang dipegangnya terlepas menghempas kelantai. Kekhawatiran yang ia rasakanpun menjadi kenyataan, ia langsung terduduk dilantai diikuti tangis dan sebuah penyesalan yang amat sangat dalam ketika mendengar berita kematian Tya kekasihnya.

"Riisss..!! Fariss..!! kamu ngaa apa-apa kan..??" tanya Dinda hingga berulang-ulang kali ditelepon.

"Aku ngaa apa-apa kok Din..!!" kali ini suara Faris terdengar surau tanda ia sangat terpukul akan apa yang meninpa dirinya. Dengan bergegas ia segera menuju ke rumah Tya, ditemani oleh Dinda yang juga menjadi sahabat baiknya Tya.

***

Beberapa saat kemudian, suasana pemakaman mulai sedikit ditinggalkan oleh para pelayat yang ikut mengiringi kepemakaman Tya. Cuaca terlihat mendung tanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan.

"Riss.., aku tunggu dimobil yaa..!! kamu yang sabar.. mungkin Tuhan punya jalan sendiri buat Tya. Semoga ia tenang dialam sana." jelas maya memberi semangat kepada Faris.

"Iya Din, makasih banyak yaa..!!" jawab Faris singkat.

Dinda pun meninggalkan Faris seorang diri, didekatinya gundukan tanah yang masih merah dan bertaburkan bunga itu. Terlihat Ayah Tya duduk dengan tangan memegang erat batu nisan yang tertuliskan nama Tya. Faris pun mendekatinya dan duduk berada disamping pria separuh baya itu.

"Omm.. Faris turut berduka cita atas kepergian Tya..!! Tya itu anak yang tegar dalam menghadapi masalah dan Faris sangat sayang sama Tya. Faris ikut sedih atas kepergian Tya om..!!" kata Faris dengan suara lirih. Ayah Tya menoleh dengan diikuti senyum kecil kearah Faris, ditepuknya pundak Faris.

"Sama-sama nak Faris.., Tya pasti juga sangat sayang sama nak Faris..!! seharusnya om yang ada didalam kubur ini, bukan Tya." sesalnya sambil memegang erat batu nisan itu diiringi tangisan. Ayah Tya lalu mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja hitamnya.

"Nak Faris.., ini kata-kata terakhir yang sepertinya ditulis Tya sebelum ia meninggal, mungkin ini ditujukan buat kamu nak.., terimalah..!!" jelas Ayah Tya.

Diserahkannya sepucuk kertas putih itu kepada Faris, kemudian ia berdiri dan melangkahkan diri meninggalkan Faris, tampak dari kejauhan suara isak tangisnya terdengar tiada henti.

***

Butiran-butiran air sedikit demi sedikit mulai berjatuhan ke atas tanah, tampaknya hujan akan segera turun. Faris masih saja terpaku dengan kenyataan ini, dipandanginya batu nisan Tya, dipegangnya erat-erat sesekali ia pun menciumnya.

"Seandainya.., malam itu aku ada disana.. aku.. aku pasti tidak akan biarkan semua ini terjadi pada kamu sayang..!!" sebuah ungkapan penyesalan dari dalam hati Faris yang terucap. Lalu dibukanya lipatan sepucuk surat yang diberikan oleh Ayag Tya kepadanya, dan membacanya.


Dear Faris..

Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menjadi yang terbaik buat kamu. Kamu pasti marah dengan apa yang aku lakukan ini. Tapi.., aku sudah ngaa punya pilihan lain lagi sayang. Aku bosan dengan kehidupanku ini. Aku ingin sekali bisa bebas..!! bebas lepas seperti burung merpati yang terbang tinggi di awan. Meskipun tindakanku ini mungkin salah menurutmu.

Riss.., selama ini kamu telah banyak membantu aku dan keluargaku, dimana saat aku sedih dan senang kamu selalu ada buatku. Aku senang sekali Ris, kamu memberikan warna-warni dalam hidupku didunia ini.. mudah-mudahan kamu mau memaafkan aku. Mungki suatu saat nanti kita akan disatukan lagi. Yaa.., suatu saat nanti dan aku pasti akan menunggu hari itu tiba..!!

Love you.. 
Tya



Hati Faris pun seperti teriris tipis-tipis saat ia membaca surat itu. Airmatanya menetes membasahi kertas yang dipegangnya itu, dengan sekejap ia langsung memeluk gundukan tanah yang masih merah dan bertaburkan buang itu, didekapnya erat-erat seakan-akan Tya yang ada dalam dekapannya.

"Tya.., kamu bodohh.. kenapa kamu lakukan hal sebodoh ini..!! kamu pasti sadar bahwa perbuatanmu ini tidak akan menyelesaikan semua permasalahan yang kamu hadapi.. benarkan Tya..??" sesal Faris diiringi dengan tanganya yang memukul-mukul tanah.

"Percuma.. percuma aku menangis.. percuma aku menyesali semua ini.. semua ini tak akan bisa mengembalikanmu lagi padaku..!!"

"Tya.. aku janji..!! aku juga kaan menunggu hari itu tiba.. dan sampai kapanpun cinta ku ini tak akan pernah pudar untukmu..!!"

"Semoga kamu tenang dialam sana sayang..!!" Faris pun mengakhiri pembicaraanya dan berdiri perlahan, ia pun mulai meninggalkan Tya seorang diri dilubang yang gelap itu diiringi dengan hujan turun yang mengiringi kepergian Faris dari tempat Tya tidur untuk selamanya.


Cikarang, 22 Desember 2011
HaNz UkhitaShiwa
http://dodotkecil.blogspot.com/
READ MORE - Penyesalan Untuk Pilihan

Masukkan email untuk update:

Delivered by FeedBurner

DoDoT_KeCiL_MaSiH_YaNg_DuLu